Archive

Posts Tagged ‘erupsi’

Memahami ‘Batuk’ Merapi 22 Juli 2013

July 24, 2013 4 comments

Suara gemuruh mirip letusan terdengar dari arah Gunung Merapi pada Senin dinihari 22 Juli 2013 pukul 04:15 WIB. Suara menakutkan itu bisa didengar siapapun yang berada di sekujur lereng dan kaki gunung berapi aktif pembatas alamiah propinsi Jawa Tengah dan DIY itu hingga radius 6 sampai 7 km dari puncak. Gemuruh lantas disusul guyuran debu dan pasir yang berkibar ke kawasan kaki dan lereng gunung, terutama sektor selatan, barat dan timur. Bersamaan dengan terbitnya sang mentari, kolom debu bersalut warna kemerah-merahan nampak mengepul dari puncak Merapi dan membumbung tinggi hingga sekitar 1.000 meter di atas puncak seperti teramati dari pos pemantauan Selo, Babadan, Jrakah dan Ngepos. Selama 35 menit kemudian tepatnya hingga pukul 04:48 WIB, badai kegempaan melanda seluruh seismometer pada semua pos pemantauan Gunung Merapi, hingga jarum-jarumnya sibuk membentuk pola berliku-liku yang khas gempa vulkanik. Pada saat yang sama pula badai kegempaan ini sempat dirasakan penduduk di lereng dan kaki gunung.

Lereng dan puncak Gunung Merapi yang tersembunyi di balik hujan debu menyusul peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan rekaman CCTV Plawangan. Sumber : BPPTKG, 2013.

Lereng dan puncak Gunung Merapi yang tersembunyi di balik hujan debu menyusul peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan rekaman CCTV Plawangan. Sumber : BPPTKG, 2013.

Daerah kaki gunung yang menjadi bagian dari Kabupaten Klaten di sisi timur dan Kabupaten Sleman di selatan sontak tersedak-sedak dijejali guyuran pasir dan debu, yang melebar hingga radius 14 km dari puncak. Hujan pasir dan debu ini mengejutkan warga setempat yang sebagian besar sedang menikmati santap sahur di tengah bulan Ramadhan 1434 H. Ditingkahi dengan bergetarnya kaca-kaca jendela yang sontak membuka kembali kenangan pahit letusan besar 2010, maka ribuan orang pun bergegas melaju ke tempat-tempat pengungsian dengan dibantu para relawan. Namun Senin dinihari yang hiruk-pikuk itu tak lantas berkembang jadi horor, setelah hujan debu ternyata segera mereda selepas Matahari menyingsing, sekitar pukul 06:00 WIB. Maka para pengungsi pun berangsur-angsur kembali ke kediamannya masing-masing. Patut disyukuri peristiwa 22 Juli 2013 itu tidak merenggut korban jiwa atau luka-luka maupun kerugian material dalam rupa rusaknya harta benda penduduk. Tetapi guyuran pasir dan debu yang relatif singkat itu masih menerbitkan kekhawatiran akan dampak tertundanya, misalnya rusaknya tanaman pertanian atau rumput cadangan pakan ternak yang vital artinya bagi penduduk kaki Merapi.

Peristiwa ini cukup mengejutkan mengingat sebelumnya tidak ada tanda-tanda Gunung Merapi sedang mengalami peningkatan aktivitas. Memang pasca letusan besar 2010-nya, gunung berapi ini sudah berkali-kali menghujani bagian lereng dan kaki gunungnya dengan pasir dan debu, namun belum pernah dalam skala sebesar ini. Didorong oleh hembusan angin, hujan debu yang ditebarkan Merapi pada Senin dinihari 22 Juli 2013 itu meluas terutama ke arah barat daya hingga menjangkau sebagian Kabupaten Magelang, Purworejo dan bahkan Kebumen. Debu yang mengguyur jalur Magelang-Muntilan-Sleman bahkan membikin kawasan itu berbedak debu setebal rata-rata 3 milimeter. Tapi uniknya daerah di sisi selatan gunung seperti kota Yogyakarta justru luput dari hujan debu ini. Sehingga transportasi udara melalui Bandara Adisucipto, yang pernah ditutup berhari-hari kala letusan besar 2010, tetap berjalan normal.

Kepulan asap putih membumbung dari kawah Merapi seiring Peristiwa 22 Juli 2013, diabadikan dari Tlogolele.  Sumber : BPPTKG, 2013.

Kepulan asap putih membumbung dari kawah Merapi seiring Peristiwa 22 Juli 2013, diabadikan dari Tlogolele.
Sumber : BPPTKG, 2013.

Sempat muncul kekhawatiran bahwa hujan debu Merapi yang di luar kebiasaan ini adalah pertanda siklus letusan gunung berapi terlasak se-Indonesia tersebut telah kembali datang menjelang. Secara rata-rata Gunung Merapi memang meletus setiap 2 hingga 5 tahun sekali berdasarkan catatan dalam kurun 100 tahun terakhir. Ada pula yang mencoba mengaitkannya ke dalam ranah mistis, mengingat hujan debu itu terjadi hampir bersamaan dengan peringatan 1.000 hari peristiwa letusan besar 2010 yang menelan banyak korban jiwa.

Batuk

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang menjadi induk dari segala aktivitas pemantauan Gunung Merapi menyatakan hingga saat ini status Gunung Merapi adalah aktif normal. Dari empat tingkat dalam pemeringkatan aktivitas sebuah gunung berapi di Indonesia, Gunung Merapi menempati tingkat terendah (level 1). Memang terdeteksi adanya peningkatan aktivitas kegempaan selama periode 15 hingga 22 Juli 2013, yakni dalam wujud terjadinya 10 gempa vulkanik dangkal, 27 gempa multifase, 66 gempa guguran dan 87 gempa frekuensi panjang. Bandingkan dengan situasi seminggu sebelumnya (7 hingga 14 Juli 2013), yang hanya mencatat adanya 1 gempa vulkanik dangkal, 5 gempa multifase dan 15 gempa guguran tanpa adanya gempa frekuensi panjang. Namun parameter lainnya, yakni jarak antara pos-pos pengamatan dengan tubuh Gunung Merapi dalam pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) ternyata relatif tak berubah. Misalnya pada pos Selo hanya terjadi perubahan sebesar +1 milimeter saja, demikian pula pos Kaliurang (+9 mm), Babadan (-4 mm) dan Jrakah (-3 mm), yang semuanya masih di bawah angka 10 milimeter. Demikian pula dengan kemiringan lereng berdasarkan pengukuran tiltmeter di Plawangan, Labuhan, Klatakan dan Pasarbubar, semuanya menunjukkan tiadanya perubahan kemiringan berarti.

Peta distribusi debu Merapi produk Peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan pemodelan BPPTKG. Beda warna menunjukkan beda ketebalan endapan debu vulkaniknya. Sumber : BPPTKG, 2013.

Peta distribusi debu Merapi produk Peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan pemodelan BPPTKG. Beda warna menunjukkan beda ketebalan endapan debu vulkaniknya. Sumber : BPPTKG, 2013.

Lalu, mengapa terjadi peristiwa 22 Juli 2013?

Secara sederhana bisa dikatakan pada saat itu Gunung Merapi sedang ‘terbatuk’ atau ‘bersin.’ Indikatornya adalah lonjakan sejumlah aktivitas kegempaannya. Secara teknis hal ini merupakan erupsi. Namun ‘batuk’atau ‘bersin’-nya Gunung Merapi itu tidak disebabkan oleh masuk berjejal-jejalnya magma segar ke dalam tubuh gunung setelah mengalir dari dapur magma nun jauh di kedalaman sana. Absennya gempa vulkanik dalam, yang adalah indikator gerakan fluida (magma) nun jauh di bawah permukaan Bumi, menunjukkan hal itu. Pun dengan tidak berubahnya jarak antar pos ke tubuh Gunung Merapi dan tidak berubahnya kemiringan lereng, yang menunjukkan bahwa tidak ada magma segar yang memasuki tubuh gunung.

Dasar kawah Merapi, diabadikan pada 5 Juli 2013 lalu. Nampak kilatan merah membara dari magma yang mengintip di dasar kawah, dengan sedikit kepulan gas vulkanik diatasnya. Di latar belakangnya nampak dinding kawah nan curam, yang sesungguhnya adalah sisa-sisa kubah lava dari letusan-letusan Merapi sebelum 2010. Sumber : BPPTKG, 2013.

Dasar kawah Merapi, diabadikan pada 5 Juli 2013 lalu. Nampak kilatan merah membara dari magma yang mengintip di dasar kawah, dengan sedikit kepulan gas vulkanik diatasnya. Di latar belakangnya nampak dinding kawah nan curam, yang sesungguhnya adalah sisa-sisa kubah lava dari letusan-letusan Merapi sebelum 2010. Sumber : BPPTKG, 2013.

Jadi, apa penyebabnya? ‘Batuk’ Merapi lebih disebabkan oleh solah-tingkah magma sisa letusan 2010 yang masih ada di saluran magma. Sebuah gunung berapi selalu memiliki saluran magma sebagai penghubung kantung magma dengan kawah di puncak/tubuh gunung. Setiap kali gunung berapi tersebut meletus, selalu masih ada magma yang tertinggal dalam saluran magma tanpa sempat muncul di kawah sebagai lava, khususnya tatkala periode suatu letusan telah berakhir. Magma yang kehilangan dorongan dari bawah akhirnya terjebak di dalam saluran magma tanpa bisa keluar. Dengan batuan adalah penghantar panas yang buruk, maka magma sisa yang terjebak ini dapat terus membara bahkan hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Barulah bila ada tambahan tekanan maka sebagian kecil magma sisa ini bisa menyembul dari kawah. BPPTKG dan sejumlah pendaki Gunung Merapi telah berkali-kali menjumpai sembulan magma di dasar kawah Merapi sebagai lava membara bersuhu lebih dari 600 derajat Celcius.

Lonjakan gempa vulkanik dangkal, yang hanya bisa terjadi bila ada pergerakan fluida (bisa magma namun bisa juga gas) tepat di bawah gunung pada kedalaman sumber yang dangkal, pada ‘batuk’ Merapi 22 Jujli 2013 lalu menunjukkan terjadi gerakan fluida sangat dangkal. Dengan tiadanya lelehan magma dari kawah sebagai lava membara serta sedikitnya volume debu yang dihembuskan saat ‘batuk’ menunjukkan aktivitas Gunung Merapi kali ini lebih disebabkan oleh semburan gas bertekanan tinggi dalam upayanya mencari jalan terobosan setelah terkungkung. Begitu menemukan jalur yang lemah, gas bertekanan tinggi ini lantas menghembuskan kekuatannya. Tekanan yang sama pula yang menyebabkan kubah lava Merapi terbaru bergetar sehingga beberapa bagiannya rontok, seperti terlihat dari lonjakan gempa guguran dan gempa multifase.

Freatik

Meski mungkin lebih disebabkan tekanan gas, namun magma sisa letusan 2010 tetap berperan penting dalam ‘batuk’ Merapi ini. Letusan besar 2010 menyebabkan Gunung Merapi berubah dramatis. Di puncaknya terbentuk kawah (cekungan) besar tak sempurna seiring robeknya sebagian dindingnya. Di dasarnya terdapat muara saluran magma Merapi. Dan berbeda dengan kejadian-kejadian letusan Merapi sebelum 2010, saluran tersebut kini relatif terbuka tanpa banyak terhalangi material yang mulai membatu dari berbagai kubah lava yang saling menumpuk hingga tinggi. Dengan terbukanya saluran magma, maka air hujan dapat lebih mudah memasukinya ketimbang saat tertutupi deretan kubah-kubah lava. Meski magma di muara saluran magma umumnya sudah membeku dan mulai membatu sehingga bisa lebih kedap air, namun jika hujan turun lebih sering maka dasar kawah Merapi akan demikian jenuh air sehingga mulailah air meresap ke dalam tubuh gunung. Dan bila terjadi persentuhan dengan magma sisa letusan 2010 di bawah kawah, yang masih panas membara, maka penguapan pun dimulai.

Jika tidak ada penghalang, uap air dengan leluasa bakal menghembus dari kawah sebagai kepulan. Namun jika terhalangi misalnya oleh bagian-bagian magma yang mulai membeku dan membatu, maka uap air yang tak menemukan jalan keluarnya itu akan berkumpul. Ditambah dengan kecenderungan keluarnya gas-gas vulkanik dari magma saat magma di dekat permukaan bumi membuat uap air itu bercampur dengan gas-gas ini sehingga tekanannya lebih besar lagi. Seiring perjalanan waktu, jumlah uap air dan gas vulkanik terus bertambah sebelum akhirnya keluar sebagai hembusan. Tetapi apabila penghalangnya demikian kuat dan tebal, akumulasi uap air dan gas vulkanik hingga jumlah cukup banyak takkan terhindarkan lagi sehingga tekanannya kian lama kian meningkat sampai demikian tingginya. Pada akhirnya batuan yang menghalanginya tak sanggup lagi menahan tekanan sehingga jebol. Uap air pun mengalir deras dan lantas menyembur keluar lewat kawah sembari menyeret material batu, pasir dan debu bersamanya. Secara teknis peristiwa ini dinamakan erupsi freatik.

Salah satu kejadian hembusan uap air dari puncak Gunung Merapi, yang terjadi pada 28 Juni 2013. Sumber : BPPTKG, 2013.

Salah satu kejadian hembusan uap air dari puncak Gunung Merapi, yang terjadi pada 28 Juni 2013. Sumber : BPPTKG, 2013.

Petunjuk ‘batuk’ Merapi ini berasal dari uap air yang terbentuk akibat persentuhan air dan magma sisa letusan 2010 tersirat dari curah hujan di kawasan Gunung Merapi. Meski sejatinya telah memasuki musim kemarau, namun dengan tetap tingginya suhu air laut di sekitar Indonesia maka terjadi situasi kemarau basah, dimana jumlah uap air di udara Indonesia tetap tinggi sehingga hujan tetap sering mengguyur. Dan sepanjang Juli 2013 ini hujan masih kerap terjadi di kawasan Gunung Merapi, yang pada umumnya berupa gerimis atau hujan berintensitas kecil. Meski demikian sempat juga terjadi hujan berintensitas sedang seperti terekam di pos pengamatan Jrakah dan Ngepos. Sebelum ‘batuk’ kali ini, Gunung Merapi sudah berkali-kali menghembuskan uap airnya sebagai asap. Terakhir misalnya pada 29 Juni 2013 silam saat asap mengepul hingga setinggi sekitar 100 meter dari puncak dengan tekanan lemah.

Petunjuk lain ‘batuk’ Merapi 22 Juli 2013 disebabkan oleh erupsi freatik juga nampak dari survei cepat yang dilakukan Agung Harijoko dkk pada Senin siang itu pula, setelah debu mereda. Meski dihadang sejumlah kesulitan seiring terbilasnya debu oleh curah hujan yang datang kemudian, namun sejumlah sampel dari hujan debu akibat ‘batuk’-nya Merapi hari itu berhasil diperoleh khususnya di Kinahrejo, bekas tanah tumpah darah almarhum Mbah Maridjan. Sampel debu tersebut ternyata mengandung remah-remah batuan dan mineral berkristal khas untuk magma sisa letusan, tanpa kehadiran magma segar. Sehingga ‘batuk’ Merapi itu berkemungkinan besar memang berupa erupsi freatik.

Aktif Normal

Apakah ‘batuk’ ini menandakan Gunung Merapi mulai menggeliat kembali dan bakal segera meletus?

Pada dasarnya sebuah gunung berapi yang akan meletus selalu didului mengalirnya magma segar dari kedalaman Bumi oleh faktor-faktor tertentu, baik internal maupun eksternal. Salah satu faktor yang kerap memicu adalah gempa tektonik, yang membuat dapur magma berguncang sehingga isinya menjadi bagaikan minuman bersoda yang baru dikocok. Aliran magma segar bakal tecermin dari gempa vulkanik dalam yang melonjak di atas normal. Aliran magma segar bakal berujung di kantung magma, sebuah penampungan magma yang terletak tepat di bawah gunung. Dari sini magma harus berjuang keras mengerahkan tekanan tingginya untuk memecahkan magma sisa letusan sebelumnya yang sudah mulai membeku dan membatu. Upaya ini bakal terlihat dengan melambungnya jumlah gempa vulkanik dangkal jauh di atas normal sekaligus mulai berubahnya jarak pos-pos pengamatan dengan tubuh gunung serta perubahan kemiringan lereng akibat mulai menggelembungnya tubuh gunung. Bila magma segar ini sudah cukup dekat dengan permukaan Bumi, ia sanggup memanaskan batuan disekelilingnya sehingga mengubah air bawah tanah menjadi uap yang terkumpul kian banyak dan akhirnya menyembur keluar dari kawah sebagai erupsi freatik. Jika magma sudah cukup dekat sehingga langsung bersentuhan dengan air bawah tanah, maka mulailah terjadi erupsi freatomagmatik, saat yang tersembur dari kawah tak hanya uap air namun juga remah-remah batu, pasir dan debu dari permukaan magma segar yang sontak membeku dan membatu saat air mendinginkannya secara mendadak. Dan bila magma segar sudah sampai di kawah, maka mulailah terjadi erupsi magmatik dengan segala variasinya.

Rekaman kegempaan Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan rekaman di bulan Juli 2013 saja. Nampak adanya peningkatan kejadian gempa frekuensi panjang (LHF), vulkanik dangkal (VB) dan multifase (MP). Namun gempa vulkanik dalam (VA) absen. Sumber : BPPTKG, 2013.

Rekaman kegempaan Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan rekaman di bulan Juli 2013 saja. Nampak adanya peningkatan kejadian gempa frekuensi panjang (LHF), vulkanik dangkal (VB) dan multifase (MP). Namun gempa vulkanik dalam (VA) absen. Sumber : BPPTKG, 2013.

Dengan runtunan tersebut, sulit untuk mengatakan ‘batuk’ Merapi kali ini sebagai pertanda ia mulai menggeliat seiring absennya aliran magma segar, setidaknya untuk saat ini. Karena itu status Gunung Merapi tetap berada dalam tingkat aktif normal sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Rekaman curah hujan di sekitar Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan curah hujan di bulan Juli 2013 saja. Sumber : BPPTKG, 2013.

Rekaman curah hujan di sekitar Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan curah hujan di bulan Juli 2013 saja. Sumber : BPPTKG, 2013.

Namun begitu kesiapsiagaan mutlak diperlukan, karena berbeda dengan letusan pada umumnya, peristiwa ‘batuk’ Merapi jauh lebih sulit diprediksi kapan bakal terjadi dan seberapa besar skalanya. Di sisi lain berubahnya wajah Merapi pasca letusan besar 2010, yang salah satunya membuat saluran magmanya menjadi terbuka, menyebabkan potensi terjadinya ‘batuk’ seperti ini lebih tinggi terlebih dalam musim penghujan ataupun dalam situasi kemarau basah seperti tahun ini. Padahal tebaran debu di udara dari ‘batuk’ Merapi ini tetap sanggup menimbulkan gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak dan kalangan lanjut usia. ‘Batuk’ Merapi yang selalu tiba-tiba juga cukup berbahaya bagi kegiatan pendakian gunung. Atas alasan ini pula Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sebagai induk dari BPPTKG, sedang mempertimbangkan untuk menaikkan status Gunung Merapi ke Waspada (level 2). Kenaikan ini bukan sebagai isyarat bahwa Gunung Merapi sedang menggeliat untuk meletus kembali, namun lebih sebagai upaya membangun kesadaran bersama bahwa Gunung Merapi kini sudah berubah dan perilakunya tak seperti dulu lagi. Namun kesiapsiagaan juga senantiasa dibutuhkan seiring terus berdetiknya jarum jam Merapi menuju ke puncak siklus letusan 2 hingga 5 tahunan, sementara bagaimana gelagat letusan Merapi mendatang sulit ditebak khususnya pasca letusan besar 2010.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.