Archive

Archive for the ‘Lahar Merapi’ Category

Alat pemantau banjir lahar dingin di Kali Boyong dan Kali putih

January 23, 2011 4 comments

Alat pemantau banjir lahar dingin di Kali Boyong dan Kali putih

oleh Prof Budi Wignyosukarto

Laboratorium hidraulika Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan FT UGM telah memasang beberapa alat pemantau banjir lahar dingin di lapangan yang dapat dipantau online lewat website lab. Salah satu contoh adalah pemantau elevasi muka air di Rejodani Kali Boyong yang dapat di lihat di http://data.hydraulic.lab.cee-ugm.com/awlr/rejodani/ Travel time Rejondani hingga Jembatan Wreksodiningrat 50 menit, sehingga data ini bisa dipakai sebagai early warning.

Alat pemantau banjir lahar dingin di Kali putih

Sebuah kamera juga dipasang di Kali putih di Dam PU-D1, yang juga dapat dilihat online lewat http://data.hydraulic.lab.cee-ugm.ac.id/cam/ travel time dari titik ini hingga jalan raya di Jumoyo adalah 20-30 menit, sehingga juga dapat dipakai sebagai early warning.

Categories: Lahar Merapi

Banjir Lahar Hujan Bukan Bahaya Sekunder

January 3, 2011 Leave a comment

BANJIR LAHAR HUJAN : BUKAN BAHAYA SEKUNDER

Krisis Merapi belumlah usai. Ancaman banjir lahar hujan, yang berupa material utama lumpur, pasir, batu dan disertai material tambahan kayu, masih mempunyai potensi membahayakan kehidupan masyarakat yang lereng Merapi. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa banjir lahar hujan disebut sebagai bahaya sekunder erupsi Merapi. Hal tersebut benar adanya jika dilihat dari perspektif erupsi Merapi, di mana banjir lahar hujan merupakan dampak lanjutan dari luncuran lahar dan awan panas. Seperti yang diberitakan di Harian Jogja tanggal 24 Desember 2010, bahwa ratusan warga di Dusun Guling, Dusun Gadingan dan Dusun Banaran diungsikan akibat banjir lahar “dingin” di aliran Kali Gendol yang meluap hingga pemukiman warga pada hari Kamis tanggal 23 Desember 2010.

Untuk mendownload gambar ukuran aslinya silahkan kli di laporan sekber

Tim Pemantau Sungai – SEKBER PPA DIY kemudian melalukan survey lapangan pada tanggal 24 Desember 2010 dan 29 Desember 2010 dari Dusun Besalen hingga Dusun Banaran, dengan menghasilkan informasi sebagai berikut:
1. Lokasi Sabo-Dam Bronggang (Foto 7) dan sepanjang kerukan material (Foto 1) menjadi obyek wisata, yang cenderung berbahaya bagi keselamatan wisatawan.
2. Material hasil erupsi yang berada di kawasan pemukiman di Dusun Besalen ke bawah merupakan bidang luncur bagi material Kali Gendol yang ditumpuk oleh back hoe.
Read more…

Categories: Lahar Merapi

Luapan Lahar K. Gendol ke Sawah

December 30, 2010 Leave a comment

Luapan Lahar K. Gendol ke Sawah
Ir. Agus Hendratno, MT

Gambaran aliran lahar overflow [luapan/banjir] bukan pada alurnya, tapi masuk ke area sawah dan juga permukiman, tapi masih di wilayah hulu dari sungai gendol.


Model-model seperti ini akan banyak dan akan merata dan berlangsung cukup lama, walau pun dengan tinggi endapannya tidak sampai 2 m. Ini problem lahar di hulu, yang justru daerah-daerah tsb akan dihuni kembali oleh warga yang radius kurang 10 km dari puncak, karena rumahnya termasuk kategori rusak ringan.

Categories: Lahar Merapi

Jogja Never Give Up: Save Code and Opak for Jogja

December 15, 2010 Leave a comment

JOGJA NEVER GIVE UP: Save Code and Opak for Jogja
oleh Nawa M

Krisis Merapi yang berlangsung lebih dari satu bulan semenjak erupsi pertama pada tanggal 26 Oktober 2010 merupakan krisis terbesar selama lebih dari 100 tahun terakhir. Pihak berwenang menyatakan bahwa erupsi G. Merapi mencapai level 4 MVI dan mengeluarkan material yang luar biasa – volumenya diperkirakan sekitar 150 juta meter kubik selama kurang lebih 24 hari. Tingkat erupsi ini jauh lebih besar dibandingkan dengan erupsi G. Merapi tahun 2006 yang “hanya” mengeluarkan sekitar 3,5 juta meter kubik material selama kurang lebih 4 hari atau erupsi G. Galunggung pada tahun 1983 yang mengeluarkan material sekitar 50 juta meter kubik selama 8 bulan.

Krisis Merapi pada tahun 2010 telah memberikan dampak langsung yang luar biasa bagi masyarakat yang bermukim di lereng G. Merapi dan dampak tak langsung bagi masyarakat yang bermukim jauh dari G. Merapi. Kehidupan masyarakat lereng G. Merapi saat ini bisa dikatakan lumpuh total, dikarenakan penghidupan masyarakat musnah akibat terjangan material G. Merapi, baik yang berupa awan panas, lahar panas dan abu vulkanik. Sedangkan bagi masyarakat lainnya terancam bahaya sekunder dari letusan G. Merapi, yaitu banjir lahar hujan. Banjir lahar hujan berpotensi menjadi bahaya dikarenakan sebagian besar material berada di kawasan lereng selatan G. Merapi akan mengalir hingga di Samudera Hindia, jika terjadi hujan dalam volume yang besar di kawasan material tersebut berada . Kondisi tersebut yang memberikan ancaman bahaya terhadap kehidupan masyarakat yang bermukim di bantaran sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi. Read more…

Seberapa siap mengantisipasi lahar hujan?

December 11, 2010 Leave a comment

Kemarin, saya sekilas membaca Instrumental lahar monitoring at Merapi Volcano, Central Java, Indonesia. Di paper itu disebutkan, monitoring lahar secara instrumental dilakukan dengan cara alat2 real-time seismic amplitude measurement (RSAM), seismic spectral amplitude measurement (SSAM) and acoustic flow monitoring (AFM) systems. Saya belum tahu RSAM dan SSAM, nanti coba saya baca lebih detil, cuman sedikit tahu tentang AFM yang pernah saya translate di sini http://mountmerapi.net/2010/11/17/sistem-deteksi-lahar/

Di paper itu, yang membuat saya sedikit terkejut adalah jumlah banjir lahar hujan yang menerpa sungai Boyong, Bedok dan Bebeng 1994-1995, 50 kali dengan durasi antara setengah jam sampai 1,5 jam. Waktu itu (November 1994) guguran lava hanya menghasilkan material sebesar 3,5 jt meter kubik dan 2,5 jt meter kubik diantaranya ada di hulu sungai boyong. Kalau kita bandingkan dengan erupsi tahun 2010, yang konon mengeluarkan material sebesar 140 jt meter kubik, jumlah material tahun 1994 relatif tidak besar, dan itu pun sudah menghasilkan frekuensi banjir lahar yang banyak. Saya tidak tahu persis seberapa banyak material yang ada di sungai-sungai yang berhulu di Merapi, hanya bisa menyebut banyak.

Sudahkah kita siap mengantisipasi banjir lahar hujan ini?
Peta Ancaman Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi Tahun 2010 yang menunjukkan kawasan rawan bencana banjir lahar dingin pasca erupsi Gunung Merapi Tahun 2010 (Sumber: BNPB)

Paper yang lain, Lahars at Merapi volcano, Central Java: an overview,
1930: Large scale; 33 events in 1930–1931 in the Batang River; large, scale on 2, 11, 14 January, 19, 20 March, and 27 April; 162, events in 1931–1932; large scale on 17 February and 7 April.

1969: Very large lahars; several overflows; 44 cold lahars in 1969; large events on 19, 20, 22, 23 January, 26 February, and 5 April; 21 events in 1970 and 1971; largest lahar on 17 January 1971, (h = 7 m at Salam). (note: pada tahun 1969 material piroklastiknya 7,7 jt m 3)

Dari dua data diatas, sedikit benang merah yang bisa diambil:
1. Banjir lahar hujan terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama, bisa berganti tahun meskipun banjir laharnya kadang cuma sebentar
2. Banyak event banjir lahar terjadi di bulan Januari yang merupakan puncak musim hujan.

So, sekarang sudah Desember.. Januari menjelang dan masih ada waktu untuk bersiap!

Categories: Lahar Merapi

Endapan Lahar Gunung Merapi

December 8, 2010 1 comment

Endapan Lahar Gunung Merapi

Luas Endapan dan Karakteristik Channel

Tiga belas sungai sekitar Merapi sudah pernah mengalami banjir  lahar, dari Sungai Apu di barat laut sampai  Sungai Woro di tenggara (Gbr. 1). Secara umum, sungai di  barat dan di sungai selatan Gunung Merapi dapat dikelompokkan secara terpisah.

Gambar 1. Distribution of recent lahar deposits on Merapi slopes (JICA, 1980). The 13 rivers shown had lahars during historical time AD 1500–1900s. Large lahar deposits are mainly located in-between the Apu and Woro Rivers. Total area of lahar deposits is about 286 km2.

Di sebelah barat, saluran antara Sungai Pabelan dan Sungai Krasak (Gbr. 2) panjangnya antara 20 sampai 30 km (Furuya, 1989), dan  di DASnya  22-45 km2. Meskipun , Sungai Pabelan memiliki panjang 46 km dan DAS 103 km2.  Kemiringan channel relatif tinggi, umumnya 10-11% untuk sebagian besar sungai, dan 14,7% di  Sungai Batang. Bantaran sungai rendah, karena jumlah sedimen yang besar terbawa  ke daerah ini sejak 1961 (Marutani et al, 1995.). Read more…

Categories: Lahar Merapi
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.