Home > Kisah > Kisah Tim Gerak Cepat TIM SAR YOGYA

Kisah Tim Gerak Cepat TIM SAR YOGYA

TIM SAR YOGYA
Kisah Tim Gerak Cepat

Foto by Suryo Wibowo

SELASA malam, 26 Oktober. Belum satu jam letusan Merapi reda dan semburan debu awan panas masih sangat terasa menyengat kulit. Bara pepohonan dan sisa bangunan yang terbakar menjadi penerang Kinahrejo, dusun sejuk di ujung aspal gunung itu.

Dua kilometer dari Kinahrejo, di persimpangan Ngrangkah, warga dan relawan tertahan di titik aman, jeri untuk menembus “neraka” yang mengempaskan puluhan jiwa warga itu. Batang bambu dan kayu sengon yang rebah di jalan membuat dusun itu hanya bisa dicapai dengan jalan kaki.

Tersebutlah lima relawan bernyali besar yang pertama kali menjejakkan kaki di kampung yang porak-poranda itu. Mereka adalah Ferry Ardianto, 34 tahun, Pristiawan (35), Irfan Yusuf (29), Martono Arbi Wibisono (46), dan Capung Indrawan (46). “Kinahrejo tempat saya bermain sejak kecil. Ini yang membuat saya memutuskan masuk secepat mungkin untuk melakukan evakuasi korban,” kata Irfan, pendaki gunung yang tergabung dalam tim Search and Rescue Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (SAR DIY).

Selain Capung, pendiri Komunitas Lereng Merapi-organisasi pemantau aktivitas Gunung Merapi-empat relawan tersebut merupakan anggota SAR DIY. Inilah regu penyelamat yang sampai lebih dulu sesaat setelah letusan di lokasi bencana, ketika lembaga penolong lain masih tergagap dan tak tahu apa yang harus dilakukan. “Kami datang atas inisiatif sendiri, ternyata ada beberapa teman yang sudah sampai di lokasi,” kata Ferry. Setelah berkumpul di titik aman, pembagian tugas dilakukan untuk memulai evakuasi.

Ferry, seperti halnya Irfan, Pristiawan, dan Martono alias Tonden, memiliki latar belakang pendaki gunung. Sejak remaja mereka mulai mendaki Merapi dan akrab bergaul dengan penduduk Kinahrejo-tempat mereka singgah sebelum memulai trekking. Sering kali mereka mampir di rumah mendiang Maridjan, juru kunci Merapi. “Kami kenal semua penduduk dan hafal rumah mereka,” kata Ferry, yang pada letusan berikutnya lebih banyak berada di posko SAR, memonitor gerakan relawan.

Kedekatan dengan Merapi dan latar belakang pencinta alam, plus pengetahuan navigasi serta penyelamatan yang diperoleh selama bergabung dengan organisasi pencinta alam kampus, membuat Ferry, Pris, Irfan, dan Tonden menjadi sumber daya yang ideal untuk SAR DIY. Ketika kabar letusan terdengar, empat orang ini langsung melesat ke lokasi bencana, dengan peralatan milik pribadi. “Saya sedang makan di warung angkringan Malioboro ketika ada kabar letusan besar,” kata Irfan. Sehari-hari Irfan berprofesi fotografer.

Dalam penyelamatan perdana itu, kelima orang tersebut berhasil menyelamatkan 12 warga yang terimpit reruntuhan rumah dan melepuh hingga tak dapat bergerak. Dari operasi yang berlangsung hingga menjelang tengah malam itu-dengan penambahan personel-juga terkumpul sembilan jenazah, termasuk korban di sekitar rumah Maridjan. Evakuasi berlanjut dinihari, pukul 03.00. Kali ini tim yang diperkuat 60 personel menemukan 16 jenazah, antara lain Mbah Maridjan, yang ditemukan dalam posisi sujud dan tubuhnya berselimut debu.

Kelima anggota tim evakuasi perdana itu pula yang menemukan jenazah Maridjan. “Saya ingat beliau pernah mengatakan tak akan meninggalkan desanya dan akan berada di masjid atau dapur,” kata Tonden, aktivis kelompok pencinta alam Merbabu Mountaineering Club (Mermounc) yang kini bekerja sebagai pengumpul botol air mineral. Untuk menghindari kerumunan orang dan pewarta foto yang menyemut di jalur evakuasi, kantong jenazah pria sepuh-yang semasa hidupnya tak suka dipotret-itu hanya dilabeli huruf “M”.

Bukan hanya aksi Ferry, Pris, Irfan, dan Tonden yang melambungkan SAR DIY sebagai tim penyelamat paling cepat dan efektif. Pada letusan besar kedua, 5 November, 180 personel SAR DIY menyusup di pagi buta ke Ngancar, Bronggang, dan Glagah. Ketika matahari mulai menerangi bumi-saat kelompok evakuasi lain mulai masuk daerah bencana-tim SAR turun dengan 51 korban selamat dan 39 jenazah. “Biasanya kami sudah istirahat saat tim lain dengan peralatan lebih lengkap masuk ke lokasi,” kata Ferry. [Kisah evakuasi ke Ngancar, Bronggang dan Glagah dikisahkan oleh Nawa M di Kisah-kisah yang Tercerer dari Merapi red]

Menurut Ferry, evakuasi dinihari yang dilakukan SAR bukan untuk mendahului kelompok relawan lain, melainkan demi keamanan anggota penyelamat. “Pagi hari biasanya puncak Merapi terlihat, sehingga bila ada lungsuran awan, bisa lebih cepat menyelamatkan diri,” katanya. Dari total 279 korban, sebanyak 107 ditemukan oleh SAR DIY dalam empat belas operasi, termasuk evakuasi penutup pada Ahad pekan lalu. Di kemudian hari, model evakuasi dinihari itu segera diikuti kelompok-kelompok relawan lain.

Tentu saja kesuksesan SAR dicapai berkat bantuan kelompok masyarakat lain, antara lain Indonesian Offroad Federation, yang menerjunkan puluhan mobil dan motor trail menembus lokasi bencana. “Saya acungi jempol buat SAR DIY. Kami hanya menyediakan kendaraan, soal pemetaan dan evakuasi adalah bagian mereka,” kata Pandit Bintoro, Sekretaris IOF Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengatakan tim SAR DIY berani masuk jauh ke lokasi bencana dengan perhitungan matang sehingga tak ada korban jiwa.

Kemahiran pemetaan dan identifikasi lokasi jenazah yang dimiliki tim SAR DIY juga membuat Batalion 403 Yogyakarta, yang mengerahkan 300 tentara, lebih mudah membantu evakuasi. “Saya salut, pemetaan mereka akurat karena informasinya didapat dari kerabat korban,” ujar Komandan Batalion Letnan Kolonel Satriyo Pinandoyo. Hal lain yang membuat Satriyo dan Pandit Bintoro takjub adalah kenyataan bahwa SAR DIY tak menerima dana operasional, apalagi bayaran, dari pemerintah pusat ataupun daerah.

Dari mana dana untuk membiayai 300-an relawan SAR DIY? “Kami gunakan dana dari kantong sendiri, juga sumbangan teman-teman,” kata Brotoseno, komandan SAR DIY. Menurut seorang anak buahnya, hampir seluruh anggaran SAR berasal dari kantong pengusaha penginapan dan rumah makan itu. “Setidaknya, satu hari dia keluar Rp 15-20 juta,” kata anggota SAR itu.

Tapi Brotoseno dalam soal ini memilih tutup mulut. “Yang jelas, para relawan tidak digaji, dan saya tidak repot membuat laporan keuangan,” ujarnya.

Brotoseno mengaku sangat memahami ketidakberdayaan pemerintah pusat, apalagi daerah, dalam mengelola organisasi penanganan bencana. Karena itu, ia santai saja menyubsidi organisasi yang secara resmi berada di bawah Gubernur Yogyakarta itu. “Yang mengangkat saya lima tahun lalu teman-teman, tidak ada surat keputusan. Tapi semua instansi mengakui saya sebagai komandan SAR. Buktinya, surat yang mereka ajukan memuat nama dan jabatan saya,” katanya serambi tergelak.

Bermodal usaha dan jaringan pertemanannya, bekas aktivis ini bisa mengumpulkan segala keperluan anak buahnya. “Sekarang semua punya sepatu dan handy talky,” ujarnya. Juga dalam pengerahan alat berat untuk menemukan korban yang terkubur material. SAR juga membantu warga yang kesulitan pascabencana, seperti pemasangan pipa air bersih. “Padahal ini bukan tugas SAR, tapi karena warga minta bantuan, ya saya carikan pipa,” ujar pengusaha yang menjadikan rumah makannya posko SAR itu.

Sumber: Tempo Online

Categories: Kisah
  1. December 27, 2010 at 8:07 pm

    Thank’s infonya

  2. pARJONO
    December 27, 2010 at 8:52 pm

    Hebat, dan salut buat Tim SAR DIY , di era yang serba materialistis ini masih ada dan mau menolong tanpa pamrih meskipun dengan mempertaruhkan nyawa.

  3. ema
    December 28, 2010 at 12:18 am

    saluttt!!!!…..jiwa2 mulia ternyata masih ada

  4. iiek capung
    December 28, 2010 at 1:12 am

    Saluuuuuuuuuttttttt

  5. doekoen
    December 28, 2010 at 8:55 am

    “NEK ORA NGONO DUDU SAR DIY”

    nek SAR DIY kudu ngono, Ora tau melu2, ora tau njaluk2, ora tau sok pahlawan, ora tau dadi artis, ora tau iklan, ora tau wah, ora tau golek2.
    Nek mangan rombongan, seneng bareng susah bareng………

    Nek ono sing ora ngono kui mending kon lungo ae soko SAR DIY..ngisin2i waris……..
    Ngapunten…emosi ngulati relawan jadi2an………………..

  6. sujak
    December 28, 2010 at 10:19 am

    pokoknya ,,kumendam Peyek teri lah!!! ( ini internal saja) hahahha mau tau cerita nya ? hahahhaha kirim perangko secukupnya…
    Bravo SAR DIY dan SARDI..Jaheeeeeeeeeeeeeeeeeee..!

  7. jabrik sugeng
    December 28, 2010 at 12:35 pm

    salam hormat , matur nuwun dan salute…..pada semua teman SAR DIY !

  8. ishomuddin
    December 28, 2010 at 1:10 pm

    top markotop…..

  9. gembelz
    December 28, 2010 at 6:35 pm

    ♥♥♥

  10. December 29, 2010 at 2:52 pm

    Komo dalam tulisan/artikel itu ada sesuatu yang saya cari tetapi tidak menemukannya yaitu “perhitungan” seperti apa yang mereka miliki sehingga mampu “menyelamatkan” dan TETAP SELAMAT
    Sudah cukup banyak pengungkapan di artikel itu sebagai sebuah tindakan penuh keberanian serta heroisme dari kisah penyelamatan disaat kritis dan sangat “membahayakan”.

    Keselamatan memang kadang unik, aneh dan tidak bisa dinalar. Seolah-olah ya memang itulah pertolongan yang mahakuasa. Saya yakin mereka percaya adanya pertolongan itu. Namun disisi lain semestinya mereka memiliki hal-hal yang (mungkin) tanpa mereka sadari merupakan tindakan yang dapat dipelajari, dapat diajarkan, dan dapat ditularkan ke anggota SAR lainnya.

    Dengan menguak hal-hal yang masih dapat dinalar ini, dan saya yakin mereka memiliki logika praktis yang masih dapat dinalar, tentunya Tonden dan kawan-kawannya dapat diajak untuk mengungkapkan tindakan serta pikiran bawahsadar mereka saat itu. Misalnya bagaimana mereka (Peleth, Tonden, Pey dkk) ini tahu bahwa ada “window” dalam operasi SAR ketika gunung meletus. Bagaimana cara mereka mengendus periodisitas letusan, danbagaimana berlari, atau bahkan menghindari serta mencoba menembus debu-debu panas ini.

    Nah kalau saja ada tulisan tentang hal ini barangkali akan menjadi pembelajaran yang penting bahwa pekerjaan SAR bukanlah uji nyali seperti iklan lomba aneh-aneh itu !

    Salam
    RDP

    • Bambang Mertani
      December 29, 2010 at 2:54 pm

      Mereka memang kurang menomorsatukan keselamatan. Banyak yang berpikir menolong dulu, perhitungan safety belakangan. Naluri dan pengalaman juga sangat mereka ikuti. Mungkin perlu diadakan tanya jawab yang mendalam, dan kemudian dicari apa bisa disejajarkan dengan kaidah safety para oil kampeni. Dua orang meninggal di bunker pada 2006 dan dua lagi mengiring kepergian mbah Marijan pada 26 okt 2010.
      BM 62

    • Iskandar Wibisono
      December 29, 2010 at 2:55 pm

      Yup, betul, sayangnya wawancara itu mengambil sudut yg berbeda shg hal2 yg diharapkan rdp itu jadi gak terungkap.
      Tapi secara garis besar bisa saya bantu jelaskan begini: Capung, Tonden, Peleth, Pey dkk itu bukan orang2 yg baru bulan kemarin mengenal Merapi. Mereka sebagian dr sekian banyak orang2 yg telah bertahun2 menggauli kawasan Merapi, dari sekedar hanya jalan2 sampai secara teliti ngubek2 setiap jengkal kawasan Merapi saat ada operasi pencarian (pengalaman pribadi ketika satu bulan lebih mengkoordinasikan kawan2 itu dlm operasi pencarian Sarwanto, mahasiswa IAIN yg hilang di Merapi pd akhir tahun 80′an). Mereka seperti sdh menyatu dg kehidupan Merapi sampai hampir setiap jengkal kawasan Merapi itu mereka kuasai.
      Merasa menjadi bagian dr kehidupan Merapi itulah yg kemudian menumbuhkan kesadaran pd kawan2 itu utk tidak hanya sekedar menjadikan Merapi sbg tempat bermain, tapi juga sbg tempat belajar ttg nilai2 kesahajaan, kesederhanaan, keikhlasan, ketulusan dan nilai2 kearifan lokal lainnya. Demikian juga sebaliknya, kawan2 itupun dg sabar, tulus dan lugas juga berusaha utk menularkan pengetahuan, informasi maupun hal2 kekinian lainnya yg umumnya lebih mudah dimiliki oleh ‘orang kota’, termasuk soal potensi bahaya yg mungkin timbul dr sebuah gunung api.
      Lalu, apakah operasi penyelamatan pd Selasa malam itu sebuah operasi penyelamatan yg bersifat spontan dan spekulatif ?. Jawabannya, TIDAK. Operasi penyelamatan itu didasarkan pada sebuah rencana operasi yg sebagiannya secara cermat SUDAH disusun jauh hari sebelumnya sbg sebuah ‘contingency plan’.
      Erupsi tahun 2006 banyak memberi pelajaran bagi kawan2, terutama bagi Capung (yg kehilangan satu relawannya -meninggal di bunker, korban satunya relawan dr Baguna, lembaga yg saat itu saya pimpin-) dan Tonden (penyebutan 2 kawan itu tanpa bermaksud mengecilkan peran kawan2 yg lainnya, krn kebetulan 2 kawan itulah yg paling intens berkomunikasi dg saya) utk mengais data dan menganalisa setiap kemungkinan yg akan terjadi setelah erupsi 2006. Pelajaran penting dr erupsi 2006 itu adalah membangun kesadaran bagi warga sekeliling kaki Merapi ttg potensi bahaya yg mungkin timbul dr Merapi. Membangun kesadaran itu oleh Capung yg dibantu Tonden diterjemahkan dg salah satunya membentuk KLM, Komunitas Lingkar Merapi, sebuah komunitas yg anggotanya adalah warga muda dr dusun2 KRB disekeliling kaki Merapi. Dengan sabar dan penuh pengorbanan Capung secara rutin mengunjungi dusun2 disekeliling kaki Merapi, mengadakan diskusi sekaligus mengajarkan bgmn mengamati dan membuat laporan sederhana ttg situasi Merapi, mengajarkan bgmn menggunakan alat komunikasi satu arah (HT), merawat repeater yg dia bangun agar komunikasi antar warga KLM itu bisa berjalan, sampai juga pada bgmn membuat peta situasi yg berisi antara lain nama dusunnya, jumlah dan letak masing2 rumah, berapa penghuninya dsb.
      Jerih payahnya itu akhirnya teruji ketika akhirnya Merapi mulai menggeliat. Informasi2/laporan2 pengamatan dr KLM itu dikumpulkan menjadi data sederhana, peta situasi dusun mulai dipelajari, menjalin komunikasi dan berbagi informasi dg BPPTK dsb. Sampai kemudian tersusunlah sebuah ‘contingency plan’ bila sewaktu2 terjadi sesuatu di Merapi.
      Itulah awalnya, jadi sesaat setelah erupsi itu terjadi, kawan2 yg pd saat itu sdh langsung berlarian menuju titik aman, langsung berkoordinasi dg salah satunya berbekal pd peta situasi yg ada (itu sebabnya kawan2 itu tahu persis titik2 mana yg harus dituju). Memang betul saat itu ada keraguan utk bergerak mengingat situasi yg gelap dan tdk menentu, tapi beruntung saat itu tiba2 ada korban yg berlarian dr atas. Logika berpikir mereka langsung berjalan, kalau masih ada yg hidup, itu berarti diatas masih memungkinkan utk dinaiki. Berbekal logika itulah kawan2 langsung bergerak naik menuju Kinahrejo. Dengan peralatan yg terbatas tapi penuh dg keyakinan mereka bergerak, menuntun dan kadang membopong korban yg masih hidup ke tempat yg bisa dijangkau, meninggalkan korban yg diyakini sdh meninggal agar bisa bergerak lebih jauh utk mencari korban yg msh bisa diselamatkan dst. Sampai kemudian pd tengah malam operasi dihentikan utk sementara sambil melakukan evaluasi (dlm percakapan saya dg tonden via hp sepanjang operasi malam itu, sebetulnya kawan2 msh ingin tetap jalan krn terobsesi utk menemukan mbah Marijan, tapi krn memang kondisi yg blm memungkinkan akhirnya sepakat utk istirahat sambil evaluasi utk dilanjutkan esok paginya). Keberanian dan ketulusan itu akhirnya membuahkan hasil, setidaknya sekian puluh orang bisa mereka selamatkan.
      Begitu oom rdp kurang lebihnya (nek nulis nganggo  ki kesel je…he…he…he….). Monggo kalau ada yg mau memberi tambahan biar bisa jadi bahan pengetahuan bagi kawan2 yg lain.
      Salam
      (ps: siang ini tonden, peleth dan kawan2 mermounc lainnya sdg berada di pos 2 merapi, menjalankan tugas utk menengok sri manganti apa msh bisa dipakai utk labuhan atau tidak)

  11. budi
    December 29, 2010 at 4:34 pm

    salam hormat dan terimakasih atas perjuanganya… sebagai warga jogja kita bangga punya Tim SAR Jogja..

  12. chuwhich
    December 29, 2010 at 6:54 pm

    SAR DIY memang TOP,..SALUT atas perjuangan teman2,..!!

  13. August 16, 2011 at 2:35 pm

    salut pisan

    semoga Allah SWT membalas ketulusan kalian. amin

  14. Ismail Ishak
    February 21, 2012 at 9:59 pm

    Saya, Ismail TV direktor dari Singapore ingin hubungi kumpulan ini untuk di interview di dalam dokumentari TV CNA. Siapa yang tahu ketuanya. Hubungi saya di ishi68@yahoo.com

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: