Archive
Luapan Lahar K. Gendol ke Sawah
Luapan Lahar K. Gendol ke Sawah
Ir. Agus Hendratno, MT
Gambaran aliran lahar overflow [luapan/banjir] bukan pada alurnya, tapi masuk ke area sawah dan juga permukiman, tapi masih di wilayah hulu dari sungai gendol.

Model-model seperti ini akan banyak dan akan merata dan berlangsung cukup lama, walau pun dengan tinggi endapannya tidak sampai 2 m. Ini problem lahar di hulu, yang justru daerah-daerah tsb akan dihuni kembali oleh warga yang radius kurang 10 km dari puncak, karena rumahnya termasuk kategori rusak ringan.
Berjibaku Menembus Debu
Berjibaku Menembus Debu
TELEPON seluler Trisno Utomo berdering tak lama setelah Gunung Merapi meletus untuk kedua kalinya pada 26 Oktober lalu. Laki-laki 54 tahun itu sedang berada di Balai Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ia bersama sejumlah warga yang masih sehat sedang memantau salah satu gunung api teraktif di dunia itu.
Saat itu, Kopeng masih aman. Tapi Dusun Kaliadem yang terletak di atasnya remuk diamuk awan panas. Itu sebabnya, Trisno kaget ketika Ponimin, salah satu tetangganya di Kaliadem, menelepon. Ia bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya ternyata selamat. “Di dusun, kalau ada apa-apa, saya biasa disambati (dimintai tolong),” kata Trisno.
Bergegas Tris, nama panggilannya, mengajak teman-temannya naik ke Kaliadem. “Ia yang paling bersemangat,” kata Muhammad Soleh Ridwan dari Al-Qadir, sebuah pesantren di Cangkringan. Dengan diantar mobil seorang perangkat desa, Tris, Soleh, dan empat rekannya naik ke Kaliadem. Tapi mobil tidak bisa mendekati rumah Ponimin. Debu panas yang tebal menjadi penghalang.
Mereka kemudian mencoba lewat jalan setapak di sisi barat. Tris masuk halaman rumah Ponimin dengan melompati pagar. Saat itu, ia tidak sadar debu panas di depannya sudah sangat menggunung. Sepatunya memang tidak apa-apa, tapi kakinya tak kuat direndam debu panas. “Ketika itu, ia tidak merasa sakit karena mungkin terlalu bersemangat menolong tetangganya,” ujar Soleh.
Mereka mendapati keluarga Ponimin sudah di dalam mobil Suzuki APV. Tris pun melompat ke atas APV. Keluarga Ponimin berhasil masuk mobil dengan memakai bantal sebagai pijakan. Tapi ban mobil sudah hancur sehingga tidak bisa dipakai. Dari atas mobil, Tris meminta yang sudah di dalam mobil turun karena ia takut mobil meledak. “Saya khawatir karena panas sekali,” katanya.
Mereka pun kembali masuk rumah dengan menggunakan bantal sebagai alas. Tapi mereka hanya sebentar di dalam rumah. Tiba-tiba saja salah satu bagian atap ambruk karena tidak kuat menahan tebalnya debu. Ponimin bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya pun kembali ke teras bersama para penolongnya.
Sempat muncul mobil yang berusaha menolong, tapi tidak bisa mendekat. Pengendara mobil itu sempat berkomunikasi dengan Tris dan mengatakan akan mencari cara agar bisa mendekat. “Saat mobil itu pergi, harapan saya seperti hilang,” kata Tris. Muncul juga sebuah jip. Tiga orang yang akan menolong Ponimin naik jip dan segera memutar.
Mungkin karena gelap, semua wajah ditutup agar napas tak terganggu. Seluruh badan juga penuh dengan debu. Koordinasi ketika itu sangat kacau. “Saya juga tidak tahu siapa-siapa yang berada di dekat saya,” kata Soleh. Ia mengira Tris sudah ikut jip itu kembali ke bawah, sedangkan Tris mengira kelima rekannya sudah pulang saat ia masuk ke rumah Ponimin.
Soleh dan seorang temennya sempat turun ke tempat aman dengan berjalan kaki, disambung sepeda motor. Mereka memberi tahu kondisi di Kaliadem kepada para petugas di balai dusun. Sesaat kemudian, ia kembali lagi ke rumah Ponimin sendirian. Soleh dan Tris berusaha membantu keluarga Ponimin mengungsi ke tempat aman dengan berjalan kaki.
Pada saat itulah Pandu Bayu Nugraha datang. Mahasiswa berusia 20 tahun itu bukan anggota SAR dan bukan pula dari regu kemanusiaan yang lain. Warga yang tinggal di bawah Kaliurang, kawasan wisata dekat Yogyakarta, itu datang ke Kinahrejo menggunakan sepeda motor trail untuk ikut menolong para korban. Suasana di sana sangat ramai karena para relawan sibuk mencari korban.
Ternyata Kaliadem-tempat keluarga Ponimin terperangkap-juga membutuhkan relawan. Ia pun memacu trailnya ke sana karena mobil tak bisa masuk. Ia membawa tabung oksigen. Seorang pengendara motor lain menyertai Pandu. Tapi tidak berapa lama, Pandu mesti sendirian karena sepeda motor bebek yang dinaiki rekannya tidak sanggup naik melewati debu tebal.
Sebenarnya di Kinahrejo saat itu ada dua sepeda motor trail, tapi yang lain tidak berani naik. Pandu, dengan trail Kawasaki KLX kesayangannya, nekat meneruskan perjalanan sendiri. “Saya memberanikan diri dengan pikiran akan ada yang nyusul,” katanya. Apalagi ia kemudian melihat jejak roda jip. Jip itu membantunya memuluskan jalan karena ranting dan cabang pohon yang menutupi jalan sudah tersingkir dari jalan.
Suasana Kaliadem senyap, sangat berbeda dengan Kinahrejo. Pandu juga tidak tahu rumah keluarga Ponimin. Ia hanya mendapat ancar-ancar rumah itu terletak di depan menara telekomunikasi. Sial. Tepat di depan rumah itu, sepeda motornya terperosok dan tidak bisa dipakai lagi. Di depan rumah Ponimin itulah ia melihat keluarga Ponimin serta Trisno dan Soleh.
Mereka memutuskan berjalan ke tempat aman dengan menggunakan bantal sebagai alas dengan cara estafet. Di bagian paling depan, Soleh membuka jalur rombongan ini. Saat itu, Pandu melihat istri Ponimin mengenakan alas kaki yang susah digunakan di lokasi seperti itu. “Seperti sepatu yang dipakai ibu-ibu kondangan itu,” ujar Pandu. “Saya menawarkan diri untuk menggendongnya.”
Pandu pun menggendong istri Ponimin, tindakan yang membuatnya menjadi terkenal. Tris pun takjub pada Pandu. “Lumayan jauh itu (jarak dari rumah ke tempat aman), lebih dari 500 meter,” kata Tris. Setelah berada di tempat aman, mereka beristirahat dan Tris menelepon untuk meminta bantuan. “Oleh Pak Tris saya dibawa ke Rumah Sakit Panti Nugroho (Sleman),” ujar Ponimin.
Di Panti Nugroho, Pandu juga memeriksakan diri karena ada pasir panas yang menerobos sepatunya. Pasir panas ini mengakibatkan kakinya melepuh. Setelah diperiksa, ia diizinkan pulang. Ternyata luka itu mengakibatkan infeksi dan bengkak. Mahasiswa Sekolah Tinggi Multimedia MMTC itu juga harus cuti setahun karena tak bisa ikut ujian. “Telat registrasi,” katanya.
Luka di kaki Tris ternyata sangat serius. Di Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta, semua jari kakinya, kecuali jempol kanan, harus diamputasi. Luka bakarnya juga membuatnya harus menjalani cangkok kulit. Saat Tempo bertemu Tris di ruang perawatan Sardjito, kulit paha kirinya sudah diambil untuk dicangkokkan di kaki. Tapi ini belum semuanya. “Minggu depan ganti paha kanan,” katanya tetap tersenyum.
Setelah sembuh, Tris juga harus menghadapi kenyataan yang lain. Sembilan sapi perah miliknya mati karena awan panas, lima di antaranya sudah usia produktif. “Sekarang saya juga tidak punya rumah lagi.”
Sumber: Tempo Online
Tanpa Kompromi di Saat Kritis
Tanpa Kompromi di Saat Kritis
DI Jalan Kaliurang, Yogyakarta, minibus APV biru telur yang ditumpangi Agus Wiyarto, Tutur Priyanto, dan Yuniawan Wahyu Nugroho melesat kencang menuju punggung Merapi, kurang dari satu jam sebelum gunung api itu meletus pada 26 Oktober lalu. Hari baru lepas magrib. “Saya tak ingat berapa kecepatan waktu itu. Yang jelas, kami diburu waktu untuk sampai ke Kinahrejo dan membawa keluarga Kang Maridjan,” kata Agus, pengusaha asal Bantul yang pernah menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Tutur Priyanto, relawan Palang Merah Indonesia yang berada di belakang kemudi, menancap gas karena Agus memprediksi akan ada letusan besar. “Saya mendengar kabar ada awan panas ke barat pukul 17.02. Merujuk pengalaman 2006, dalam waktu satu jam akan ada letusan susulan, dan bisa mengarah ke selatan,” katanya. Sebelumnya, dua orang ini hampir kehabisan waktu karena menunggu Yuniawan, juru warta portal Vivanews dari Jakarta, yang minta ikut ke rumah Maridjan tapi mengalami keterlambatan pesawat hampir satu jam. Read more…
Kisah Tim Gerak Cepat TIM SAR YOGYA
TIM SAR YOGYA
Kisah Tim Gerak Cepat
SELASA malam, 26 Oktober. Belum satu jam letusan Merapi reda dan semburan debu awan panas masih sangat terasa menyengat kulit. Bara pepohonan dan sisa bangunan yang terbakar menjadi penerang Kinahrejo, dusun sejuk di ujung aspal gunung itu.
Dua kilometer dari Kinahrejo, di persimpangan Ngrangkah, warga dan relawan tertahan di titik aman, jeri untuk menembus “neraka” yang mengempaskan puluhan jiwa warga itu. Batang bambu dan kayu sengon yang rebah di jalan membuat dusun itu hanya bisa dicapai dengan jalan kaki.
Tersebutlah lima relawan bernyali besar yang pertama kali menjejakkan kaki di kampung yang porak-poranda itu. Mereka adalah Ferry Ardianto, 34 tahun, Pristiawan (35), Irfan Yusuf (29), Martono Arbi Wibisono (46), dan Capung Indrawan (46). “Kinahrejo tempat saya bermain sejak kecil. Ini yang membuat saya memutuskan masuk secepat mungkin untuk melakukan evakuasi korban,” kata Irfan, pendaki gunung yang tergabung dalam tim Search and Rescue Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (SAR DIY). Read more…
Angkringan Yu Redjo
Diberitahukan kpd khalayak, khususnya pelanggan Warung Yu Rejo Bebeng Kaliadem, bhw saat ini Yu Rejo bukak warung di jl Jl Palagan tentara pelajar km9 dusun kamdanen Yogyakarta (sekitar 2 km utara hotel hyat), halaman toko outdoor The Trekkers, wedang gedang ready for ‘sruput’…monggo !
Angkringan Yu Redjo [Foto by Yuma Yulie] Read more…
Klangon dusun terdepan Merapi, Bangkit..
Klangon dusun terdepan Merapi, Bangkit..
oleh Agus Wiyarto
Reruntuhan rumah Kang Semi didusun Klangon, yang merupakan dusun terdekat dari puncak Gunung Merapi (4 KM) Read more…
Ultralight Pengganti Burung Penyebar Biji
Ultralight Pengganti Burung Penyebar Biji
oleh Bpk. Bambang Mertani
Padangpasir berbatu dan yang luas sekali dapat kita lihat sekarang dari halaman rumah mBah Marijan. Melihat kekiri, kanan, atas, bawah tak ada sebatang pohon pun yang berdiri. Rumpun bambu semua rebah dan mengering. Sangat menyedihkan melihat pemandangan ini. Banyak orang yang merasa sedih. Beberapa penduduk mulai menanam pohon ditanah bekas rumahnya. Ada juga kelompok yang mulai menanam pohon sepanjang jalan ke Kinahrejo. Tetapi bukit bukit nun jauh disana disekeliling jalur lintasan wedus gembel tetap gersang dan gundul. Tak ada huytan pinus. Tak ada burung beterbangan. Ya burung2 yang membantu penyebaran flora sudah punah bersama habitatnya. Mengharap alam menyembuhkan dirinya sendiri akan makan waktu puluhan bahkan ratusan tahun.
Gersang (sumber: Agus Wiyarto)
Usul untuk semua pecinta Merapi: mari kita hijaukan bukit2 gersang itu. Kumpulkan benih rerumputan, bunga2 liar, buah pinus, bijih sengon dan pohon2 keras lain sebanyak mungkin dan tanam dipadang gundul itu. Menabur dengan berjalan di permukaan tanah akan susah dan memakan waktu lama. Dengan helikopter terlalui mahal. Ada yang punya pesawat ultralite? Atau kita sewa? Mungkin dalam waktu satu minggu penyebaran benih dengan pesawat ringan itu sudah selesai kalau dilakukan dari atas…
Mengangkasa di langit biru (Sumber: http://www.robots.org)
Ini hanya impian saya, tetapi dengan kerjasama rekan2 bukannya mustahil untuk diwujudkan. Selagi masih ada hujan, benih akan mudah tumbuh!
Ayo kita hijaukan lagi bukit2 itu.
Bambang Mertani, Gondanglegi, Pakem.
Bila Anda tertarik dengan gagasan ini dan ingin memberikan masukan, Anda bisa menghubungi:
1. Bambang Mertani di bmertani@yahoo.com
2. Sulastama R di rsulastama@gmail.com
Myths and Mysticism Surrounding Merapi: Central Java, Indonesia
Sri Wahyuni
Discussion on Mt. Merapi volcano, expected imminently to erupt, would be considered incomplete unless it included the myths and mysticism that surround it. Sri Wahyuni wrote an excellent article on the subject.
Reaching magnificently up to the sky on the border between Yogyakarta and Central Java provinces, the 2,968-meter volcano is believed, by the traditional Javanese communities that live in its vicinity, to be a sacred place.
Some think that the volcano is the kingdom of spirits; while visiting Merapi, people are advised not to do things that could anger the spirits, such as relieving oneself wherever one might wish.
Others believe that the volcano is guarded by spirits, whose names vary from one region to another. On the northern slopes of Merapi, for example, Mbah Petruk is the guardian. In the south, the guardian spirit is Kyai Sapujagad, who was believed to have been sent by Panembahan Senopati to guard Merapi.
Panembahan Senopati was the founder and first king of the Mataram Kingdom, which ruled Yogyakarta from the 16th century.
Other spirits are believed to live in or guard the volcano. These include Nyai Kendit and Dewi Gadung Melati. The rituals for worshiping Merapi or the spirits, therefore, also vary from one place to another. In Selo, Boyolali, Central Java, for example, villagers hold the Sega Gunung ritual to worship Mbah Petruk.
Others do so through ordinary tumpengan rituals, during which ceremonial dishes of tumpeng (cone-shaped yellow rice), are presented and served.

A huge crowd of people participate in a tumpengan ritual on the slopes of Mt. Merapi at Kaliurang, Sleman regency. During the ritual, participants worship Mbah Petruk, a divine spirit believed to be a guardian of Merapi. (Slamet Susanto)
Rumah Pak Pujo dalam Kenangan
Rumah Pak Pujo dalam Kenangan
Agus Wiyarto
Setiap Pendaki Gunung yang pernah menginjakkan kakinya di Gunung Merapi lewat jalur selatan tepatnya lewat dusun Kinahreja, paling tidak akan mengenal 3 sosok warga yang akrab disambangi dan dipakai untuk transit para pendaki sebelum melakukan pendakian ke Gunung Merapi. Mereka adalah Mbah Maridjan, Bu Udi dan yang terakhir adalah Pak Pujo atau lebih akrab dipanggil Kang Pujo…
Reruntuhan rumah Pak Pujo dilihat dari atas
Posisi rumahnya sebenarnya tidak berada di Kinahreja, tetapi lebih tepat di Ngrangkah meski masih satu pedusunan dengan Kinahreja, Dusun Pelemsari.
Pak Pujo dan Bu Pujo sangat akrab dengan pendaki yg mampir dan menginap dirumahnya, sehingga mereka merasa ‘at home’… tidak mengherankan apabila banyak cerita, kenangan maupun catatan tentang beliau berdua…
Merenungi reruntuhan rumah Pak Pujo
Erupsi Gunung Merapi tanggal 26 Oktober 2010 lalu telah memanggil mereka keharibaan Tuhan Yang Maha Kuasa, bahkan erupsi Gunung Merapi berikutnya tanggal 5 Nopember 2010 benar-benar telah meluluh lantakan seluruh rumah Pak Pujo, rumahnya para pendaki… yang tinggal hanyalah kenangan yg tak terlupakan…
Selamat Jalan Pak Pujo, Bu Pujo… do’a kami menyertaimu
Naskah: Agus Wiyarto
Foto: Suel Atau Lukianto
Nasib Tragis Mobil Evakuasi
oleh Agus Wiyarto
Erupsi Gunung Merapi yang berlangsung sejak tanggal 26 Oktober 2010 lalu sampai kini, menyisakan berbagai kisah mulai dari korban nyawa sampai harta benda, namun ada kisah lain yang belum banyak diketahui yaitu kisah tragis mobil yang digunakan pertama kali untuk evakuasi dan berhasil menyelamatkan sekian banyak nyawa warga dari terjangan awan panas Gunung Merapi pada hari selasa 26 Oktober 2010.
Mobil Suzuki APV dengan nomor polisi AB 1053 PV milik Agus Wiyarto warga Bantul, yang dikendarai oleh relawan PMI Tutur Priyanto bersana Wawan Yunawan wartawan Vivanews.com hari selasa (26/10) tiba dirumah Mbah Maridjan menjelang sholat Maghrib dengan tujuan melakukan evakuasi keluarga Mbah Maridjan dan warga Kinahrejo dan sekitarnya. Pada trip pertama setelah sholat maghrib kendaraan tersebut mampu menyelamatkan dan membawa turun belasan warga Kinahreja, Pelemsari ke barak pengungsian di bale desa Umbulharjo, namun pada perjalanannya yang kedua untuk evakuasi kendaraan tersebut terjebak di kinahreja dan diterjang awan panas bersama kedua penumpangnya Tutur Priyanto dan Wawan didepan rumah Mbah Maridjan.
Ketika ditemukan pertama kali oleh tim SAR, posisi mobil Suzuki APV berada didepan rumah Mbah Maridjan dalam keadaan pintu terbuka dan kunci dalam keadaan ter-kontak menghadap kearah jalan dalam posisi siap evakuasi.








Kelompok Studi Kawasan Merapi

