Erupsi Freatik Gunung Merapi, 10 Maret 2014.

March 15, 2014 1 comment

Hembusan asap kelabu mendadak membumbung tinggi dari puncak Gunung Merapi pada Senin pagi 10 Maret 2014 pukul 07:10 WIB lalu. Asap kelabu yang mirip dengan kolom letusan (rempah vulkanik yang disemburkan vertikal dalam letusan gunung berapi) membumbung hingga setinggi 1.500 meter dari puncak, untuk kemudian terhanyut ke arah timur mengikuti hembusan angin. Hujan debu berintensitas rendah pun sempat terjadi di lereng Gunung Merapi bagian timur. Semburan asap kelabu itu pun menjadi pemandangan yang mencolok mata bagi siapa saja yang menatap ke arah Gunung Merapi di pagi hari itu. Apakah gunung berapi yang paling aktif di Indonesia itu sedang menggeliat dari tidurnya? Apakah ia sedang menyusuri jejak yang telah ditinggalkan Gunung Kelud, yang baru saja meletus besar kurang dari sebulan sebelumnya?

Gambar 1. Panorama puncak Gunung Merapi pada saat erupsi freatik 10 Maret 2014 lalu, diabadikan dari arah selatan oleh pak Bambang Mertani. Nampak kepulan asap menghembus ke atas untuk kemudian menyebar ke arah timur. Nampak pula hujan debu mulai mengguyur di lereng timur. Sumber: Bambang Mertani, 2014.

Gambar 1. Panorama puncak Gunung Merapi pada saat erupsi freatik 10 Maret 2014 lalu, diabadikan dari arah selatan oleh pak Bambang Mertani. Nampak kepulan asap menghembus ke atas untuk kemudian menyebar ke arah timur. Nampak pula hujan debu mulai mengguyur di lereng timur. Sumber: Bambang Mertani, 2014.

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebagai lembaga yang memayungi seluruh kegiatan pemantauan Gunung Merapi menyatakan kejadian Senin pagi tersebut merupakan peristiwa hembusan atau letusan freatik (erupsi freatik). Dan peristiwa ini bukanlah yang pertama. Sepanjang 2013 lalu saja terdapat sedikitnya 4 peristiwa erupsi freatik yang tergolong besar, masing-masing pada 22 Juni, 22 Juli, 18 November dan 10 Desember 2013. Belum terhitung puluhan lagi erupsi freatik yang kecil, yang sulit diindra mata manusia namun terdeteksi dengan baik lewat instrumen seismometer (pengukur gempa). Erupsi freatik menjadi wajah baru dalam aktivitas Gunung Merapi pasca Letusan Merapi 2010 yang demikian besar.

Apa penyebabnya? Secara umum erupsi freatik disebabkan oleh air bawah tanah pada tubuh suatu gunung berapi yang mendadak terpanaskan hebat hingga mengalami penguapan brutal menghasilkan uap superpanas. Karena terbentuk jauh di bawah tanah dan tak terhubung langsung dengan udara luar, maka uap superpanas ini terperangkap di lokasi pembentukannya. Kian intensifnya pemanasan membuat jumlah uap yang terbentuk kian banyak sehingga tekanannya kian meninggi. Pada suatu saat, tekanannya telah demikian besar sehingga mampu meretakkan batuan keras yang menjadi penutup di atasnya dan membentuk jalan pintas untuk berhubungan dengan udara bebas melalui jalur paling lemah dalam tubuh gunung berapi, yakni saluran magmanya. Maka tersemburlah uap air bertekanan tinggi itu melalui puncak. Dalam perjalanannya keluar ke permukaan Bumi, uap air tersebut juga menggerus dinding saluran magma yang dilintasinya sembari mengangkut partikel debu, pasir, kerikil dan bahkan bongkahan batu hingga ukuran tertentu. Karena itu uap air yang tersembur pun menjadi berwarna kelabu karena mengandung material hasil gerusan.

Gas Vulkanik Panas

Gambar 2. Peta sebaran debu vulkanik dalam erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014. Hujan debu dengan ketebalan endapan lebih dari 3 mm hanya terjadi di lereng Gunung Merapi bagian timur. Sumber : BPPTKG, 2014.

Gambar 2. Peta sebaran debu vulkanik dalam erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014. Hujan debu dengan ketebalan endapan lebih dari 3 mm hanya terjadi di lereng Gunung Merapi bagian timur. Sumber : BPPTKG, 2014.

Erupsi freatik pada umumnya ditenagai oleh panas yang bersumber diantara salah satu dari dua hal berikut. Yang pertama adalah magma segar yang sedang menanjak naik dari kantung magma dangkal (yakni penampungan magma yang tepat berada di bawah tubuh sebuah gunung berapi) untuk bersiap keluar ke permukaan bumi. Suhu magma yang cukup tinggi membuatnya mampu memanaskan apapun yang ada di sekitar saluran magma yang dilintasinya. Maka air bawah tanah pun sanggup terpanaskan hebat meskipun ia belum bersentuhan langsung dengan magma segar. Erupsi freatik dengan sumber panas ini selalu dibarengi dengan meningkatnya jumlah gempa vulkanik di gunung berapi tersebut, sebagai pertanda aliran magma segar. Erupsi freatik jenis ini juga merupakan babak pembuka yang bakal diikuti dengan erupsi freatomagmatik (kala air bawah tanah langsung bersentuhan dengan magma segar) dan kemudian dipungkasi dengan erupsi magmatik (kala magma sudah benar-benar keluar di permukaan Bumi dengan segala manifestasinya, entah leleran lava maupun awan panas). Contoh terkini erupsi freatik semacam ini dapat disaksikan pada perilaku Gunung Sinabung (Sumatra Utara), tepatnya sejak 15 September 2013 hingga 11 November 2013 (saat awan panas mulai muncul).

Sementara yang kedua adalah gas-gas vulkanik panas. Entah bagaimana pemicunya, kantung magma dangkal mendadak melepaskan gas-gas vulkanik panas dengan volume besar menuju ke permukaan Bumi melalui saluran magma. Komponen dalam gas vulkanik tersebut bisa berupa gas belerang, gas karbondioksida dan sejumlah gas minor lainnya. Bila gas-gas vulkanik bersuhu tinggi ini bertemu dengan air bawah tanah berkonsentrasi tinggi yang terjebak di dalam/sekitar saluran magmanya, maka cerita yang sama pun berulang. Air bawah tanah terpanaskan hebat hingga menjadi uap superpanas yang terakumulasi demikian rupa hingga akhirnya bertekanan tinggi. Erupsi freatik dengan sumber ini sangat khas, karena tidak disertai dengan peningkatan dramatis akan kegempaan vulkanik gunung berapi tersebut. Justru setelah semburan uap dan material hasil gerusan terjadi, kegempaan vulkaniknya malah menurun dan kembali seperti pada saat tidak ada kejadian erupsi freatik. Dan erupsi freatik seperti ini adalah yang terjadi pada Gunung Merapi selama ini, khususnya pasca 2010.

Gambar 3. Citra satelit kawasan Yogyakarta dan sekitarnya bersumber dari Google Earth. Nampak posisi Gunung Merapi dan stasiun seismik Wanagama yang terpisah sejauh 42 km. Dalam erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014 lalu, getarannya diduga sempat terekam di stasiun Wanagama. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Earth.

Gambar 3. Citra satelit kawasan Yogyakarta dan sekitarnya bersumber dari Google Earth. Nampak posisi Gunung Merapi dan stasiun seismik Wanagama yang terpisah sejauh 42 km. Dalam erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014 lalu, getarannya diduga sempat terekam di stasiun Wanagama. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Earth.

Dalam rilis BPPTKG, erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014 didahului dengan gempa vulkanik dangkal (gempa tipe B) pada 7 Maret 2014 dengan amplitudo hingga 200 mm. Berselang 2 hari kemudian sebuah gempa tektonik jauh meletup di lepas pantai Jawa Timur, yakni pada 9 Maret 2014 pukul 20:42 WIB dengan episentrum 115 km sebelah tenggara kota Malang, kedalaman sumber (hiposentrum) 10 km dan magnitudo 5,4 skala Richter. Getaran gempa tektonik jauh ini mungkin menyebabkan gangguan pada kantung magma dangkal Gunung Merapi. Namun harus digarisbawahi bahwa di waktu yang telah berlalu hal tersebut tak selalu terjadi. Gangguan tersebut melepaskan gas-gas vulkanik panas dalam jumlah besar ke atas. Gas-gas vulkanik panas segera bertemu dengan air bawah tanah yang membuatnya berubah menjadi uap bertekanan tinggi. Hembusan pertama dari kawah Merapi terdeteksi pada 10 Maret 2014 pukul 06:54 WIB. Satu setengah menit kemudian dua hembusan berikutnya secara beruntun terjadi hanya dalam selang waktu 9 detik, diikuti gempa vulkanik dalam (tipe A) pada pukul 07:08 WIB. Hembusan mulai berhenti pada pukul 07:25 WIB. Dan pada saat yang hampir bersamaan hujan debu berintensitas ringan mulai terjadi di desa Kepuharjo, Umbulharjo, Sidorejo dan Balerante. Cukup menarik bahwa selain terekam di stasiun-stasiun seismometer di sekujur tubuh Gunung Merapi sendiri, getaran yang menyertai erupsi freatik Merapi kali ini juga sempat terekam di stasiun seismik Wanagama (Gunungkidul) meskipun antara keduanya terbentang jarak 42 km.

Status Aktif Normal

Gambar 4. Rekaman kegempaan Gunung Merapi selama erupsi freatik 10 Maret 2014 dari stasiun seismik Pusunglondon. Nampak aktivitas hembusan semenjak pukul 06:54 WIb hingga 07:30 WIB. Hembusan terbesar yang bersamaan dengan mengepulnya asap pekat dari kawah terjadi pada pukul 07:08 WIB. Sumber : BPPTKG, 2014.

Gambar 4. Rekaman kegempaan Gunung Merapi selama erupsi freatik 10 Maret 2014 dari stasiun seismik Pusunglondon. Nampak aktivitas hembusan semenjak pukul 06:54 WIb hingga 07:30 WIB. Hembusan terbesar yang bersamaan dengan mengepulnya asap pekat dari kawah terjadi pada pukul 07:08 WIB. Sumber : BPPTKG, 2014.

Memasuki pukul 07:30 WIB Gunung Merapi sudah tenang kembali seperti sediakala sebelum terjadinya erupsi freatik. Pada pukul 11:10 WIB memang sempat terjadi hembusan lagi, namun tekanan uap airnya cukup lemah. Sehingga asap yang keluar dari kawah Gunung Merapi hanya berwarna putih, berketinggian rendah dan tanpa disertai debu vulkanik. Dengan durasi yang sangat singkat (hanya beberapa puluh menit) dan tidak dibarengi lonjakan jumlah gempa vulkanik Merapi, baik gempa tipe A maupun B, maka peristiwa 10 Maret 2014 itu diyakini merupakan erupsi freatik yang ditenagai oleh gas-gas vulkanik panas yang terleps dari kantung magma dangkal Gunung Merapi. Hal ini sekaligus menandakan bahwa erupsi freatik Merapi bukanlah hasil pergerakan magma segar.

Bahaya primer Gunung Merapi terletak pada pergerakan magma segarnya terutama bila menyeruak ke permukaan Bumi dalam rupa leleran lava maupun awan panas. Tiadanya gerakan magma segar pada setiap erupsi freatik Merapi selama ini merupakan dasar bagi BPPTKG untuk tetap mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi di tingkat terbawah, yakni Aktif Normal (Level I). Hanya pada saat magma segar terdeteksi sudah mulai bergerak naik, yang ditandai dengan melonjaknya jumlah gempa vulkanik Merapi, maka status aktivitas Gunung Merapi bakal ditingkatkan ke level lebih tinggi. Di sisi lain, meskipun erupsi freatik Merapi selama ini menyemburkan debu vulkanik yang berujung pada hujan debu di bagian tertentu lereng dan kaki Gunung Merapi, namun intensitas hujan debunya tergolong ringan sehingga relatif tak berdampak besar terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. Pada aras yang sama, peristiwa hujan debu (khususnya yang berintensitas ringan hingga sedang) juga tak pernah dikategorikan sebagai sumber bahaya potensial yang mengancam jiwa manusia, melainkan hanya diletakkan pada posisi sebagai sumber bahaya potensial yang menurunkan kualitas kehidupan manusia. Atas dasar inilah maka bisa dipahami mengapa status Gunung Merapi tetap dinyatakan dalam Aktif Normal (Level I), atau tingkat terendah.

Gambar 5. Sinyal seismik tipe akselerometer (percepatan) yang terekam stasiun Wanagama pada Senin pagi 10 Maret 2014 pukul 07:08 WIB bertepatan dengan erupsi freatik Gunung Merapi, dianalisis oleh Januar Arifin (BMKG) melalui JISView. Nampak getaran yang diduga berasal dari erupsi freatik Gunung Merapi. Sumber: Arifin, 2014.

Gambar 5. Sinyal seismik tipe akselerometer (percepatan) yang terekam stasiun Wanagama pada Senin pagi 10 Maret 2014 pukul 07:08 WIB bertepatan dengan erupsi freatik Gunung Merapi, dianalisis oleh Januar Arifin (BMKG) melalui JISView. Nampak getaran yang diduga berasal dari erupsi freatik Gunung Merapi. Sumber: Arifin, 2014.

Erupsi freatik Merapi sangat sulit untuk diprediksi kejadiannya. Namun dengan dampak lebih berupa hujan debu berintensitas ringan, maka langkah terbaik yang bisa dilakukan bagi masyarakat yang bermukim disekelilingnya adalah mengantisipasinya. Persedian masker menjadi hal yang mutlak bagi setiap rumah tangga di sini, karena kejadian erupsi freatik tetap berpotensi terulang lagi di waktu mendatang. Inilah yang harus kita terima sebagai bagian dari berubahnya wajah dan juga perilaku Gunung Merapi pasca 2010.

Hidup Ramah Bersama Merapi yang Berubah (Bagian Kedua)

February 5, 2014 1 comment

Disarikan dari makalah Drs. Subandriyo, M.Si
Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG),
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI

Seperti telah dipaparkan dalam bagian pertama dari tulisan ini, tidak dijumpainya endapan awan panas (yang seharusnya masih bersuhu tinggi) memberikan kepastian bahwa apa yang terjadi di Gunung Merapi pada 18 November 2013 merupakan peristiwa erupsi freatik. Berbeda dengan erupsi freatik pada umumnya yang terjadi beruntun dalam selang waktu tertentu sebagai babak pembuka dari erupsi magmatik, seperti yang bisa disaksikan di Gunung Sinabung (Sumatra Utara) semenjak September 2013, erupsi freatik di Gunung Merapi lebih merupakan kejadian tunggal dengan durasi sangat singkat. Begitu erupsi freatik itu usai tidak ada lagi erupsi susulan yang menyertainya. Kasus serupa juga dijumpai di Gunung Tangkuban Parahu (Jawa Barat) dalam aktivitasnya di 2013.

Namun terlepas dari itu, perilaku Gunung Merapi pasca Letusan Merapi 2010 yang kini gemar ber-erupsi freatik memunculkan tanda tanya, apakah kejadian tersebut bakal berpengaruh terhadap status aktivitas Gunung Merapi saat ini? Bagi beberapa kalangan, masalah apakah Gunung Merapi mengalami erupsi freatik ataukah magmatik seyogyanya tak perlu diperdebatkan, karena faktanya gunung berapi tersebut telah ber-erupsi atau dalam bahasa sederhana telah mengalami letusan. Letusan tersebut seyogyanya menjadi dasar bagi lembaga terkait, khususnya BPPTKG, untuk menaikkan status aktivitas Gunung Merapi dari yang kini masih Aktif Normal (Level 1) menjadi setidaknya Waspada (Level 2). Penaikan status ini sebagai bagian untuk menjaga kesiapsiagaan masyarakat khususnya yang bermukim di sekujur tubuh Gunung Merapi.

Status

Gambar 1. Perubahan wajah puncak Merapi dilihat dari titik yang sama yakni arah tenggara-timur dalam waktu yang berbeda, antara sebelum letusan 2010 (kiri) dan setelah letusan 2010 (kanan). Letusan 2010 membuat sebagian puncak terpenggal serta terbentuk kawah besar seukuran 423 x 374 meter dengan kedalaman 140 meter yang robek di sisi tenggara dengan lebar robekan 303 meter. Didasarnya teronggok kubah lava 2010, pusat erupsi freatik selama ini. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 1. Perubahan wajah puncak Merapi dilihat dari titik yang sama yakni arah tenggara-timur dalam waktu yang berbeda, antara sebelum letusan 2010 (kiri) dan setelah letusan 2010 (kanan). Letusan 2010 membuat sebagian puncak terpenggal serta terbentuk kawah besar seukuran 423 x 374 meter dengan kedalaman 140 meter yang robek di sisi tenggara dengan lebar robekan 303 meter. Didasarnya teronggok kubah lava 2010, pusat erupsi freatik selama ini. Sumber: BPPTKG, 2014.

Status aktivitas Gunung Merapi, atau singkatnya status Merapi, selama ini ditegakkan berdasar pada ada tidaknya magma segar yang terlibat dalam erupsi, baik tatkala masih di dalam tubuh gunung dan sedang menanjak naik (sehingga berimplikasi pada meningkatnya jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal secara dramatis) maupun setelah keluar dari kepundan (sebagai kubah lava maupun awan panas dan leleran lava). Magma segar menjadi ancaman utama yang berdampak primer, mengingat awan panas dan leleran lava yang diproduksinya mampu menimbulkan korban jiwa ataupun luka-luka pada manusia di samping mampu merusak harta benda hingga menimbulkan kerugian material.

Terdapat empat status aktivitas yang bisa melekat pada sebuah gunung berapi di Indonesia dalam kurun waktu tertentu. Status terendah adalah Aktif Normal (Level 1), yang secara umum terjadi kala dalam gunung berapi tersebut tidak ada pergerakan magma yang signifikan. Meski tetap mengemisikan gas vulkanik dan juga memproduksi gempa-gempa khas gunung berapi terkecuali gempa vulkanik dalam, namun semuanya masih berada dalam nilai rata-rata secara statistik. Di tingkat berikutnya terdapat status Waspada (Level 2), yang secara umum terjadi kala magma di perut bumi mulai bergerak menanjak naik sehingga menghasilkan lonjakan jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal. Emisi gas vulkanik mulai meningkat namun belum diiringi dengan deformasi tubuh gunung. Dalam status ini masyarakat musti sudah meningkatkan kewaspadaannya dan bersiap-siap menata barang-barang yang dibutuhkan dalam rangka evakuasi kelak. Kawasan terlarang pun mulai terbentuk meski masih beradius kecil. Namun status Waspada bersifat dapat-balik, yakni dapat turun kembali menuju status dibawahnya (Aktif Normal) saat gerakan magma mendadak melemah dan berhenti tanpa adanya letusan.

Jika gerakan magma terus berlangsung maka gunung berapi akan memasuki status lebih tinggi, yakni Siaga (Level 3). Secara umum dalam status ini magma telah bergerak cukup signifikan di dalam perut bumi sehingga mulai memasuki tubuh gunung berapi. Akibatnya lonjakan gempa vulkanik dalam dan dangkal serta emisi gas vulkanik terus terjadi, diiringi dengan mulai terdeformasinya tubuh gunung seiring masuknya magma ke dalamnya sehingga terjadi penggelembungan (inflasi). Dapat pula terjadi magma sudah mencapai dasar kepundan dan menyeruak keluar sebagai erupsi. Magma yang ter-erupsi bisa terkumpul di satu titik sebagai kubah lava maupun tersebar sebagai leleran lava dan awan panas. Meski sudah terjadi erupsi namun intensitasnya rendah sehingga belum mengancam pemukiman manusia di tubuh gunung tersebut. Dalam status ini evakuasi masyarakat di yang bermukim di tubuh gunung sudah mulai dilakukan. Radius kawasan terlarang pun diperluas. Pada umumnya status Siaga bersifat tak dapat-balik, sehingga akan berujung ke status berikutnya yang lebih tinggi. Meskipun dalam beberapa kasus dijumpai gunung-gunung berapi yang telah berstatus Siaga namun ternyata dapat balik ke status yang lebih rendah seperti Waspada atau bahkan Aktif Normal. Dan status berikutnya sekaligus yang tertinggi adalah Awas (Level 4), yang secara umum terjadi saat intensitas erupsi kian meningkat sehingga mulai mengancam pemukiman manusia. Dalam status ini radius kawasan terlarang kian diperluas.

Gambar 2. Gambar sederhana tahap erupsi freatik yang tak disusul magmatik. Keterangan: 1=tubuh gunung berapi, 2=air bawah tanah di sekitar puncak,3=kubah lava,4=uap air yang terbentuk akibat pemanasan air bawah tanah,5: aliran gas-gas vulkanik bersuhu tinggi. A = sebelum erupsi terjadi, gas vulkanik bersuhu tinggi mulai memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava hingga membentuk uap superpanas bertekanan tinggi. B = saat tekanannya sudah tak sanggup ditahan batuan kubah lava , uap air pun menyembur keluar bersama gas-gas vulkanik panas serta debu dan bongkahan bebatuan yang berhasil digerus dari dinding saluran magma. C = begitu gas dan uap air keluar dari saluran magma, erupsi pun berhenti karena tenaga penggeraknya sudah hilang. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Gambar sederhana tahap erupsi freatik yang tak disusul magmatik. Keterangan: 1=tubuh gunung berapi, 2=air bawah tanah di sekitar puncak,3=kubah lava,4=uap air yang terbentuk akibat pemanasan air bawah tanah,5: aliran gas-gas vulkanik bersuhu tinggi. A = sebelum erupsi terjadi, gas vulkanik bersuhu tinggi mulai memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava hingga membentuk uap superpanas bertekanan tinggi. B = saat tekanannya sudah tak sanggup ditahan batuan kubah lava , uap air pun menyembur keluar bersama gas-gas vulkanik panas serta debu dan bongkahan bebatuan yang berhasil digerus dari dinding saluran magma. C = begitu gas dan uap air keluar dari saluran magma, erupsi pun berhenti karena tenaga penggeraknya sudah hilang. Sumber: Sudibyo, 2014.

Lembaga yang bertanggung jawab terhadap dinamika status gunung-gunung berapi di Indonesia adalah PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) yang berkedudukan di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Khusus untuk Gunung Merapi, peran tersebut didelegasikan kepada BPPTKG. Di Gunung Merapi, pada umumnya dinamika status berlangsung secara linier tanpa dapat-balik. Maka begitu status Waspada ditegakkan, dalam beberapa waktu berselang ia akan menanjak menjadi Siaga dan kemudian dipungkasi dengan Awas. Pola semacam ini yang kini dikenal dengan idiom “Merapi tak pernah ingkar janji.” Namun urusan menaik-turunkan status Merapi tak pernah menjadi persoalan sederhana, mengingat status Merapi adalah ekspresi umum komunikasi publik tentang apa yang sedang dialami gunung berapi tersebut bagi publik baik di lingkup lokal maupun regional. Pasca Letusan Merapi 2010, telah terbentuk SOP (standard operating procedure) bagi dusun-dusun yang berada di sekujur tubuh Gunung Merapi dalam menyikapi aktivitasnya. Dalam SOP tersebut, evakuasi mandiri musti dilakukan tatkala status Merapi memasuki tahap Siaga (Level 3).

Dari waktu ke waktu, alasan rasional untuk menaik-turunkan status Merapi berbeda-beda. Misalnya sebelum 2010, status Siaga (Level 3) baru ditegakkan setelah titik api diam (sebagai pertanda mulai keluarnya magma segar) telah teramati dan hal ini juga cukup dipahami publik masa itu. Namun menjelang Letusan Merapi 2010, status yang sama telah ditegakkan meski belum ada tanda-tanda titik api diam. Alasan yang mendasarinya adalah kegempaan Gunung Merapi yang sangat riuh, melebihi kegempaan sebelum Letusan Merapi 2006, disertai dengan lonjakan tajam emisi gas-gas vulkaniknya khususnya gas karbondioksida. Di kemudian hari keputusan ini terbukti tepat, sebab andaikata BPPTKG tetap bertahan untuk menanti munculnya titik api diam maka korban jiwa dalam jumlah besar takkan terelakkan mengingat Letusan Merapi 2010 bertipe eksplosif atau sangat berbeda dengan letusan-letusan sebelumnya semenjak 1930.

Meski terdapat dinamika tersebut, namun alasan utama yang mendasari naik-turunnya status Merapi adalah magma segar. Inilah yang menjadi fokus utama dalam menyikapi kejadian erupsi 18 November 2013 lalu sehingga statusnya perlu ditegakkan dengan pasti apakah berupa erupsi magmatik ataukah lainnya (yakni erupsi freatik). Bagi para peneliti, memastikan jenis erupsi ini bukanlah untuk mencari kepuasan diri dalam ranah intelektual, melainkan karena antara erupsi magmatik dan freatik memiliki karakteristiknya masing-masing sehingga penyikapannya pun berbeda. Jika yang keluar pada saat itu adalah magma segar, atau terjadi erupsi magmatik, maka jelas status Merapi memang harus ditingkatkan dan langkah-langkah selanjutnya perlu diambil. Namun jika bukan, mengapa harus menaikkan status Merapi ?

Analogi yang bisa diambil dalam menyikapi erupsi freatik ini adalah kejadian hujan debu vulkanik seperti terjadi dalam Letusan Merapi 2010. Letusan itu menghamburkan debu vulkanik ke arah barat dalam radius cukup jauh sehingga sempat membuat Kabupaten Purworejo, Kebumen dan Cilacap berbedak abu pekat seiring hujan debu yang cukup deras. Tak ada yang membantah bahwa tebaran debu vulkanik ini mampu menurunkan kualitas kesehatan manusia pada umumnya khususnya akibat gangguan sistem pernafasan. Namun sejauh ini paparan debu vulkanik bagi manusia pada umumnya tidak berdampak mematikan. Atas dasar tersebut maka meski masyarakat Kabupaten Purworejo, Kebumen dan Cilacap cukup terdampak oleh Letusan Merapi 2010 lalu, tak ada alasan rasional untuk meningkatkan status ketiga kabupaten tersebut menjadi kawasan terlarang atau pun sejenisnya. Sehingga penduduknya pun tak perlu mengungsi dan cukup melaksanakan langkah-langkah antisipasi yang diperlukan. Hal tersebut pun berlaku bagi erupsi freatik Merapi, ditambah dengan tiadanya erupsi susulan yang menyertainya apalagi yang berjenis erupsi magmatik. Sehingga tak ada alasan rasional untuk menaikkan status Merapi.

Hidup Ramah

Gambar 3. Gambar sederhana tahap erupsi freatik yang lantas diikuti dengan erupsi magmatik. Keterangan: 1=tubuh gunung berapi, 2=air bawah tanah di sekitar puncak,3=kubah lava,4=uap air yang terbentuk akibat pemanasan air bawah tanah,5: aliran magma segar yang sedang naik menuju kawah. A = Sebelum erupsi terjadi, magma segar sudah memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava hingga membentuk uap superpanas bertekanan tinggi meski belum benar-benar bersentuhan dengannya. B = Saat tekanannya sudah tak sanggup ditahan lagi oleh batuan kubah lava, uap air pun menyembur keluar bersama gas-gas vulkanik panas serta debu dan bongkahan bebatuan yang berhasil digerus dari dinding saluran magma sebagai erupsi freatik. Sementara magma terus menanjak. C = Begitu erupsi freatik usai, maka erupsi magmatik pun dimulai kala magma telah sampai di kawah. Kubah lava yang menutupi kawah pun didobrak hancur, yang memungkinkan magma segar keluar sebagai lava pijar dan awan panas. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Gambar sederhana tahap erupsi freatik yang lantas diikuti dengan erupsi magmatik. Keterangan: 1=tubuh gunung berapi, 2=air bawah tanah di sekitar puncak,3=kubah lava,4=uap air yang terbentuk akibat pemanasan air bawah tanah,5: aliran magma segar yang sedang naik menuju kawah. A = Sebelum erupsi terjadi, magma segar sudah memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava hingga membentuk uap superpanas bertekanan tinggi meski belum benar-benar bersentuhan dengannya. B = Saat tekanannya sudah tak sanggup ditahan lagi oleh batuan kubah lava, uap air pun menyembur keluar bersama gas-gas vulkanik panas serta debu dan bongkahan bebatuan yang berhasil digerus dari dinding saluran magma sebagai erupsi freatik. Sementara magma terus menanjak. C = Begitu erupsi freatik usai, maka erupsi magmatik pun dimulai kala magma telah sampai di kawah. Kubah lava yang menutupi kawah pun didobrak hancur, yang memungkinkan magma segar keluar sebagai lava pijar dan awan panas. Sumber: Sudibyo, 2014.

Meski tidak berimplikasi pada status Merapi, kejadian erupsi freatik 22 Juli 2013 dan 18 November 2013 sempat menakutkan masyarakat yang bermukim di tubuh gunung. Khususnya bagi dusun-dusun yang berdekatan dengan puncak, dimana hujan debu pekat disertai suara gemuruh sudah cukup mengguncang masyarakat yang masih dicekam situasi psikologis seiring kejadian Letusan Merapi 2010 yang demikian berbeda. Evakuasi mandiri ke titik-titik pengungsian pun sempat berlangsung. Meski mereka lalu kembali lagi ke kediaman masing-masing dalam beberapa jam kemudian setelah situasi mereda.

Erupsi freatik menjadi hal yang baru bagi Gunung Merapi sehingga ia tak pernah tercantum ke dalam sifat-sifat letusan Merapi yang ada selama ini dan digunakan sebagai basis penaksiran ancaman Gunung Merapi. Dalam catatan Thouret dkk (2000) terdapat tujuh sifat letusan Merapi mulai dari yang teringan berupa guguran batuan harian dari kubah lava terbaru yang bisa menjangkau hingga 2 km dari kubah atau hingga elevasi 1.800 meter dpl hingga yang terparah berupa letusan lateral (mendatar) atau letusan terarah dari salah satu sektor lereng Gunung Merapi yang mampu menimbuni area seluas lebih dari 200 kilometer persegi dengan radius mendatar hingga 20 km dari puncak yang diduga pernah terjadi sedikitnya sekali dalam kurun 7.000 tahun terakhir. Seluruhnya melibatkan pengeluaran magma segar baik dari yang sekedar terakumulasi di puncak sebagai kubah lava hingga yang terlontar lateral sebagai awan panas letusan berskala besar. Tabulasi Thouret dkk itu memang tidak menihilkan ancaman letusan Gunung Merapi yang tidak melibatkan pengeluaran magma segar, misalnya ancaman gas-gas vulkanik beracun dengan mengambil analogi letusan kawah Sinila-Sigludug-Timbang (1979) di Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah). Namun peta kawasan rawan bencana untuk letusan semacam ini tak tergambar dengan pasti seiring ketidakjelasan parameter penyebaran gas beracun dan sepanjang catatan sejarah Gunung Merapi belum pernah menyemburkan gas beracunnya hingga taraf mematikan.

Gambar 4. Peta sebaran debu tiga peristiwa erupsi freatik Merapi yang berbeda, masing-masing erupsi 22 Juli 2013 (atas), erupsi 18 November 2013 (tengah) dan erupsi 12 Desember 2013 (bawah). Karena hembusan angin pada tiap kejadian erupsi freatik itu berbeda-beda, maka arah dan distribusi debunya pun berbeda-beda. Perhatikan bahwa ketiga peta tidak memiliki skala yang sama. Sumber: BPPTKG, 2013.

Gambar 4. Peta sebaran debu tiga peristiwa erupsi freatik Merapi yang berbeda, masing-masing erupsi 22 Juli 2013 (atas), erupsi 18 November 2013 (tengah) dan erupsi 12 Desember 2013 (bawah). Karena hembusan angin pada tiap kejadian erupsi freatik itu berbeda-beda, maka arah dan distribusi debunya pun berbeda-beda. Perhatikan bahwa ketiga peta tidak memiliki skala yang sama. Sumber: BPPTKG, 2013.

Dengan absennya magma segar dalam setiap kejadian erupsi freatik di Gunung Merapi selama ini, maka ancaman bahaya erupsi freatik memiliki analogi dengan ancaman bahaya gas beracun dari Gunung Merapi, yakni sama-sama tak tergambar peta kawasan rawan bencananya seiring tidak jelasnya persebaran debu vulkanik yang diproduksi dalam tiap erupsi freatik. Jika melihat kasus erupsi freatik 22 Juli 2013, 18 November 2013 dan terakhir 12 Desember 2013, nyatalah bahwa sebaran debu produk erupsi freatik berbeda-beda untuk setiap kejadian karena sangat dipengaruhi oleh hembusan angin yang bertiup pada saat itu. Dan dengan absennya magma segar maka bahaya erupsi freatik bagi manusia berada setingkat di bawah bahaya erupsi magmatik. Sehingga tinggal bagaimana kita mengantisipasinya sesuai dengan langkah-langkah yang selama ini dilakukan dalam menghadapi paparan debu vulkanik.

Debu vulkanik bisa mengganggu kinerja hidung dan tenggorokan kita sehingga menimbulkan ISPA (infeksi saluran pernafasan atas) dalam rupa iritasi, hidung berlendir dan batuk. Debu vulkanik juga bisa mengganggu mata kita khususnya bagi para pengguna lensa kontak. Debu vulkanik juga mengganggu jarak pandang manusia, sebab meski sudah jatuh di tanah ia masih bisa terhambur lagi ke udara akibat tiupan angin baik dari sebab alamiah maupun yang ditimbulkan dari aktivitas manusia, misalnya kala mobil melintas di jalan yang dipenuhi debu vulkanik. Karena itu sangat disarankan untuk berdiam di dalam ruangan tatkala hujan debu terjadi setidaknya selama 1 jam semenjak hujan debu mulai terjadi. Jika terpaksa berada di luar ruangan, kenakanlah masker yang menutupi hidung dan mulut. Usahakan aktivitas di luar ruangan tersebut berlangsung sesingkat dan seefektif mungkin. Tidak disarankan mengenakan kacamata hitam karena jarak pandang yang terbatas. Jika debu vulkanik mulai membuat mata kita pedih, jangan dikucek namun bersihkan mata dan wajah kita dengan air bersih. Terbatasnya jarak pandang juga mengharuskan kita mengendarai kendaraan bermotor dengan hati-hati, sebab potensi kecelakaan lalu lintas meningkat. Jalankan kendaraan kita dengan kecepatan pelan, yang selain sebagai bagian dari langkah kehati-hatian berkendara juga untuk meminimalisir hamburan debu vulkanik di jalan yang kita lintasi.

Hujan debu pekat disertai suara gemuruh memang menakutkan khususnya bagi kita yang tinggal di seputar lereng Gunung Merapi dan berdekatan dengan puncak. Maka tak ada larangan untuk mengevakuasi diri dan keluarga menuju ke titik-titik pengungsian yang telah disepakati bersama. Saat barak-barak pengungsian telah dihuni, maka menjadi kewajiban bagi pemerintah daerah setempat melalui BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) masing-masing untuk melayani para pengungsi sebaik mungkin sesuai prosedur tetap yang telah digariskan. Selama hujan debu berlangsung usahakan untuk tetap tenang, tidak panik, tetap berfikir jernih dan tetap menyaring setiap informasi yang masuk. Jadilah pribadi yang bertanggung jawab dan jangan terpancing untuk ikut-ikutan menyebarkan informasi yang tak jelas kesahihannya, meskipun perangkat komunikasi yang kita miliki memungkinkan untuk itu. Untuk itu upayakan guna selalu mengikuti perkembangan informasi terkini dari BPPTKG misalnya melalui media sosial semacam Twitter ataupun Facebook. Akan lebih bagus lagi jika kita turut mewartakan informasi yang sahih tersebut, yang memberitakan apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada Gunung Merapi, bukan justru malah membesar-besarkannya situasinya.

Gambar 5. Selalu sedia masker untuk mengantisipasi jika Gunung Merapi mendadak kembali mengalami erupsi freatik. Masker berguna agar paparan debu ke hidung kita bisa seminimal mungkin dan tak menimbulkan dampak bagi kualitas kesehatan kita, sebab produk utama erupsi freatik Merapi selama ini lebih berupa debu vulkanik. Gambar dicuplik dari Boston.com, 8 November 2010 sebagai ilustrasi.

Gambar 5. Selalu sedia masker untuk mengantisipasi jika Gunung Merapi mendadak kembali mengalami erupsi freatik. Masker berguna agar paparan debu ke hidung kita bisa seminimal mungkin dan tak menimbulkan dampak bagi kualitas kesehatan kita, sebab produk utama erupsi freatik Merapi selama ini lebih berupa debu vulkanik. Gambar dicuplik dari Boston.com, 8 November 2010 sebagai ilustrasi.

Karena potensi bahaya terbesar erupsi freatik ada di sekitar puncak Gunung Merapi saja, tepatnya di kawasan kerucut Gunung Anyar, maka pendakian Merapi sebaiknya hanya dibatasi hingga kawasan Pasarbubar (kaki Gunung Anyar) saja. Paparan debu vulkanik produk erupsi freatik memang dapat menurunkan kualitas kesehatan manusia siapapun, namun dampak lebih besar akan dirasakan oleh anak-anak dan kalangan lanjut usia. Untuk anak-anak, saat hujan debu akibat erupsi freatik berlangsung perlu ada toleransi atas keterlambatan mereka masuk sekolah khususnya tatkala hujan debu berlangsung di pagi hari jelang jam pelajaran dimulai. Toleransi yang sama juga bisa diajukan kala mereka absen atas alasan yang sama.

Gunung Merapi memang telah berubah pasca Letusan Merapi 2010. Kini erupsi freatik telah menjadi bagian dari wajah Merapi keseharian dan sangat sulit untuk diprakirakan sebelumnya. Ini menjadi hal yang tak pernah terbayangkan sebelum 2010. Dengan Gunung Merapi telah berubah, maka kita yang berdiam di sekelilingnya dan di sekujur tubuhnya pun harus turut menyesuaikan diri dengannya. Maka marilah kita hidup ramah bersama Gunung Merapi yang telah berubah itu. Kala ia terdiam, maka tetaplah beraktivitas normal menjalankan apa yang sudah direncanakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun tatkala erupsi freatik terjadi, mari jalankan langkah-langkah antisipasi yang tersebut di atas.

Referensi:
Subandriyo. 2014. Aktivitas Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010, Antisipasi Terhadap Erupsi Freatik Vulkanian. Pertemuan Kelompok Studi Kawasan Merapi, Sleman 4 Januari 2014.

Thouret dkk. 2000. Toward a Revised Hazard Assessment at Merapi Volcano, Central Java. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 100 (2000), 479-502.

Hidup Ramah Bersama Merapi yang Berubah (Bagian Pertama)

February 1, 2014 2 comments

Disarikan dari makalah Drs. Subandriyo, M.Si
Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG),
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG),
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI

Pasca kejadian 18 November 2013 sempat muncul pertanyaan apakah peristiwa itu merupakan erupsi freatik ataukah magmatik. Jika berupa erupsi freatik, maka apa yang dimuntahkan Gunung Merapi pada saat itu lebih didominasi oleh uap air yang bercampur dengan material letusan tua (produk letusan 2010 atau sebelumnya) yang turut tersembur keluar seiring tingginya tekanan uap air. Erupsi freatik senantiasa berdurasi singkat, hanya berlangsung selama beberapa menit hingga puluhan menit, dengan produk erupsi bersuhu relatif rendah. Sedangkan bila berbentuk erupsi magmatik, maka pada saat itu Gunung Merapi memuntahkan magma segar yang bisa bermanifestasi sebagai awan panas maupun leleran lava sehingga produk erupsinya senantiasa bersuhu tinggi. Erupsi magmatik, khususnya di Gunung Merapi, senantiasa memiliki durasi yang cukup panjang mulai dari sebulan hingga beberapa tahun. Bila kejadian 18 November 2013 adalah erupsi magmatik, maka hal itu menjadi penanda meluapnya magma segar baru yang mengawali sebuah periode letusan baru pasca letusan 2010.

Dari sisi manusianya, kedua jenis erupsi itu memiliki perbedaan sifat yang bertolak belakang sehingga penyikapannya pun sungguh berbeda. Bahaya akibat erupsi freatik lebih pada kerikil dan debu vulkanik yang disemburkannya. Meski pada umumnya lebih banyak merejam tubuh dan kaki gunung, kadang debu vulkanik produk erupsi freatik ada pula yang tersebar jauh mengikuti hembusan angin hingga menciptakan hujan debu pada radius cukup jauh dari gunung. Sedangkan bahaya akibat erupsi magmatik tak hanya pada debu vulkaniknya, yang juga bisa menciptakan hujan debu pada radius cukup jauh, namun juga pada material awan panas maupun leleran lava bersuhu tinggi. Selain sanggup merusak segala yang dilintasinya, awan panas dan lava cukup mematikan bagi manusia. Letusan Merapi 2010 mendemonstrasikan dengan telanjang bagaimana hempasan awan panas merenggut korban jiwa hingga ratusan orang.

Bagaimana dengan kejadian 18 November 2013?

Kepastian Erupsi Freatik

Gambar 1.Beberapa produk erupsi 18 November 2013 yang dijumpai di sekitar puncak Merapi. Atas: Bongkahan batuan beragam ukuran di kaki Gunung Anyar (kawasan Pasar Bubrah). Bawah kiri: pasir di lereng Gunung Anyar. Bawah kanan: kerikil yang mendarat di atas panel surya pada salah satu instrumen pemantau Gunung Merapi. Seluruh produk erupsi bersuhu dinginsehingga memastikan kejadian 18 November 2013 adalah erupsi freatik. Sumber : BPPTKG, 2014.

Gambar 1.Beberapa produk erupsi 18 November 2013 yang dijumpai di sekitar puncak Merapi. Atas: Bongkahan batuan beragam ukuran di kaki Gunung Anyar (kawasan Pasar Bubrah). Bawah kiri: pasir di lereng Gunung Anyar. Bawah kanan: kerikil yang mendarat di atas panel surya pada salah satu instrumen pemantau Gunung Merapi. Seluruh produk erupsi bersuhu dinginsehingga memastikan kejadian 18 November 2013 adalah erupsi freatik. Sumber : BPPTKG, 2014.

Pasca kejadian 18 November 2013 BPPTKG (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi) melaksanakan pendakian untuk menyelidiki lebih lanjut hakikat erupsi itu, dengan meneliti material produk erupsi yang diendapkan di sekitar puncak Gunung Merapi. Pendakian dilaksanakan pada 22 November 2013 dan berhasil menjumpai bukti yang memperkuat argumen sebelumnya, bahwa kejadian 18 November 2013 lebih merupakan erupsi freatik. Bukti itu berupa material lepas dengan ukuran bervariasi mulai dari bongkah hingga butir pasir. Material ini dijumpai mulai dari sadel kawah mati (endapan lava 1915) hingga ke jalur pendakian di sekitar Gunung Anyar, atau melampar dari elevasi 2.930 meter dpl (dari permukaan laut) hingga 2.712 meter dpl, dengan ketebalan antara 10 hingga 60 cm. Jika ditarik dalam arah garis lurus, material tersebut terbentang hingga sepanjang 377 meter. Material ini memiliki suhu yang sama dengan lingkungan sekitarnya, atau merupakan material dingin sehingga tak mungkin merupakan endapan awan panas. Material tersebut merupakan material jatuhan (fall) yang bersumber dari kubah lava 2010.

Kubah lava 2010 sendiri teramati dalam kondisi terbelah oleh retakan besar yang mengarah U320T atau dari barat laut ke tenggara. Retakan besar dengan panjang 230 meter dan lebar awal 50 meter ini melintas tepat di pusat kubah lava 2010 (yang berupa ceruk kecil mirip kawah) dan juga tepat segaris dengan ceruk di kaki kubah lava di bawah lava 1948 yang sebelumnya menjadi pusat dari erupsi freatik 22 Juli 2013. Erupsi freatik 18 November 2013 kemungkina juga menyembur dari ceruk pusat erupsi freatik 22 Juli 2013 ini, ditandai dengan semakin melebarnya ceruk hingga berdiameter 100 meter. Dari retakan besar di kubah lava 2010 itu menyembur asap solfatara (gas SO2) pekat yang bersuhu tinggi hingga 478 derajat Celcius. Tak hanya bersuhu tinggi, asap ini pun memiliki tekanan tinggi yang terindikasi dari terdengarnya suara blazer.

Gambar 2.Pusat erupsi freatik 18 November 2013 di kubah lava 2010, sebagai retakan memanjang yang membelah kubah lava dari tenggara (kiri) ke barat laut (kanan) melintasi ceruk pusat kubah (tanda panah). Ujung barat laut dari retakan ini tepat berada di titik pusat erupsi freatik 23 Juli 2013. SUmber: BPPTKG, 2014.

Gambar 2.Pusat erupsi freatik 18 November 2013 di kubah lava 2010, sebagai retakan memanjang yang membelah kubah lava dari tenggara (kiri) ke barat laut (kanan) melintasi ceruk pusat kubah (tanda panah). Ujung barat laut dari retakan ini tepat berada di titik pusat erupsi freatik 23 Juli 2013. SUmber: BPPTKG, 2014.

Tiadanya jejak magma segar khususnya yang berbentuk endapan awan panas memberikan kepastian bahwa kejadian 18 November 2013 sebagai erupsi freatik. Tekanan tinggi yang sama pula yang menggerus material letusan tua yang masih ada di sepanjang saluran magma hingga menjadi material lepas yang turut terangkut dalam erupsi. Percampuran dengan material itu pula yang membuat kolom letusan berwarna laksana kolom letusan dalam kejadian erupsi magmatik.

Dengan tiadanya magma segar yang terlibat dalam erupsi 18 November 2013, darimana sumber panas yang menyebabkan air berubah menjadi uap air bertekanan tinggi yang menggerakkan erupsi freatik ini? Pada umumnya erupsi freatik merupakan kejadian yang mengawali erupsi magmatik, sehingga pada umumnya sumber panas tersebut berasal dari magma segar yang sedang menanjak naik sehingga sudah bisa memanaskan air bawah tanah secara konduktif meski keduanya belum bersentuhan sama sekali. Dalam pemanasan konduktif, panas dari magma dihantarkan oleh batuan disekeliling saluran magma hingga mencapai air bawah tanah. Namun air bawah tanah juga dapat terpanaskan oleh gas-gas vulkanik bersuhu tinggi yang terlepaskan dari magma segar. Pemanasan oleh gas vulkanik berlangsung lebih efektif ketimbang pemanasan konduktif, mengingat batuan sejatinya merupakan penghantar panas (konduktor) yang buruk. Pemanasan oleh gas-gas vulkanik memang mungkin karena saat magma segar mulai menanjak ia juga melepaskan gas-gas vulkanik bersuhu tinggi dalam jumlah yang kian meningkat.

Analisa geokimia Gunung Merapi menunjukkan adanya peningkatan dramatis dalam jumlah gas karbondioksida (CO2) yang dilepaskan gunung menjelang erupsi freatik 18 November 2013. Pengukuran pada Oktober 2013 menunjukkan saat itu konsentrasi gas karbondioksida sangat tinggi, yakni mencapai hampir 70 %. Padahal pengukuran yang sama yang dilakukan dua bulan sebelumnya, yakni Agustus 2013, menunjukkan kadar gas karbondioksida hanya sekitar 10 %. Pasca erupsi freatik 18 November 2013, pengukuran sejenis pada Desember 2013 menunjukkan kadar gas karbondioksida kembali turun ke angka sekitar 10 % saja. Peningkatan dramatis ini menunjukkan kemungkinan hubungan antara tingginya konsentrasi gas karbondioksida dengan kejadian erupsi freatik 18 November 2013. Tingginya gas karbondioksida menjelang erupsi freatik 18 November 2013 mengingatkan pada tingginya kadar gas yang sama jelang Letusan Merapi 2010.

Gambar 3. Atas: energi seismik akumulatif Gunung Merapi sepanjang Oktober-November 2013. Nampak lonjakan dramatis jumlah energi sejak tiga hari sebelum peristiwa erupsi freatik 18 November 2013 terjadi, yang mencapai tujuh kali lipat nilai semula. Bawah: geokimia Gunung Merapi khususnya emisi gas karbondioksida (CO2) semenjak Februari 2011 hingga Desember 2013.  Nampak lonjakan besar konsentrasinya (tanda panah) pada bulan Oktober 2013, tepat sebulan sebelum erupsi freatik 18 November 2013 terjadi. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 3. Atas: energi seismik akumulatif Gunung Merapi sepanjang Oktober-November 2013. Nampak lonjakan dramatis jumlah energi sejak tiga hari sebelum peristiwa erupsi freatik 18 November 2013 terjadi, yang mencapai tujuh kali lipat nilai semula. Bawah: geokimia Gunung Merapi khususnya emisi gas karbondioksida (CO2) semenjak Februari 2011 hingga Desember 2013. Nampak lonjakan besar konsentrasinya (tanda panah) pada bulan Oktober 2013, tepat sebulan sebelum erupsi freatik 18 November 2013 terjadi. Sumber: BPPTKG, 2014.

Petunjuk lebih jelas datang dari analisa seismik (kegempaan) Gunung Merapi. Tiga hari sebelum kejadian erupsi freatik tersebut tepatnya pada 15 November 2013 terjadi peningkatan jumlah energi seismik akumulatif Merapi hingga hampir 7 kali lipat dari sekitar 300 Tera erg menjadi 2.000 Tera erg. Selama dua hari kemudian energi akumulatif ini tidak bertambah sebelum kemudian tiba-tiba melonjak lagi 1,5 kali lipat menjadi sekitar 3.100 Tera erg tepat pada hari terjadinya erupsi freatik (1 Tera erg = 1.000 Giga erg, 10 Juta erg = 1 Joule). Gejala serupa juga terdeteksi pada erupsi freatik 22 Juli 2013. Saat itu energi seismik akumulatif Merapi yang semula bernilai 2.600 Tera erg semenjak Juni 2013 tanpa ada perubahan berarti pun mendadak melonjak dramatis hingga 1,4 kali lipat sampai pada saat hari erupsi terjadi. Sebagai pembanding, pada erupsi 22 Juli 2013 sebelumnya energi seismik akumulatifnya juga cukup tinggi, mencapai sekitar 3.600 Tera erg.

Dari lonjakan konsentrasi gas karbondioksida dan energi seismik akumulatif ini tergambar bahwa sumber panas yang menyebabkan erupsi freatik di Gunung Merapi kemungkinan besar adalah peningkatan emisi gas-gas vulkanik khususnya gas karbondioksida. Tingginya curah hujan di kawasan puncak menyebabkan air hujan meresap dan terakumulasi di dasar kawah. Air hujan lantas bertemu dengan gas karbondioksida bersuhu tinggi sehingga terpanaskan hebat hingga berubah menjadi uap. Dengan suhu gas lebih dari 400 derajat Celcius kala keluar dari lubang solfatara, jelas uap air yang terbentuk adalah uap superpanas dan bertekanan tinggi. Akumulasi uap dan peningkatan konsentrasi gas karbondioksida secara bertahap terekam sebagai getaran demi getaran seismik. Peningkatan tekanan tersebut membuat material letusan tua yang masih tersisa di dalam saluran magma mulai terlepas membentuk bongkahan-bongkahan beraneka ukuran. Reaksi berantai pun terjadilah saat bongkahan-bongkahan ini mulai menggerus dinding saluran magma hingga melepaskan material letusan tua lebih banyak lagi dan selanjutnya material yang baru terlepas ini pun menggerus dinding. Pada akhirnya kombinasi tekanan uap air superpanas dan gas karbondioksida telah demikian tinggi sehingga melampaui ambang batas kekuatan material kubah lava 2010 yang menjadi batuan penutup diatasnya. Akibatnya kubah pun terbelah menjadi dua yang lantas diikuti dengan semburan gas dan material gerusan menjadi kolom letusan.

Gas karbondioksida tersebut berasal dari magma Merapi khususnya yang ada dalam kantung/saku magma di kedalaman 1 hingga 1,7 km di bawah kawah. Bagaimana bisa terjadi peningkatan emisi gas karbondioksida bersuhu tinggi ini masih belum jelas. Yang pasti, tatkala saluran magma masih tersumbat oleh kubah lava 2010 di ujungnya maka gas panas ini tak bisa keluar dengan leluasa. Seiring dengan tingginya curah hujan di puncak seperti diperlihatkan oleh kurva curah hujan di bulan Juli dan November 2013, maka gas panas tersebut pun bertemu dengan air hujan yang meresap ke dasar kubah lava, yang memungkinkan erupsi freatik terjadi. Pada peristiwa erupsi freatik 18 November 2013 terekam adanya gempa tektonik jauh dengan episentrum di lepas pantai selatan kota Cilacap (Jawa Tengah) hanya beberapa saat sebelum erupsi. BPPTKG menduga gempa tektonik ini menjadi salah satu pemicu erupsi freatik, sebab mengguncang kantung/saku magma demikian rupa sehingga terjadi melepaskan gas karbondioksida panas dalam jumlah besar. Pelepasan tersebut menghasilkan gempa tremor yang lantas disusul dengan erupsi freatik. Namun terjadinya lonjakan energi seismik akumulatif sejak 3 hari sebelum erupsi menunjukkan faktor pemicunya bukan hanya gempa tektonik tersebut semata. Absennya gempa tektonik sebelum peristiwa erupsi freatik 22 Juli 2013 pun menjadi petunjuk bahwa tak hanya guncangan akibat gempa tektonik yang mampu melepaskan gas vulkanik panas.

Deteksi dan Peluang

Dengan erupsi freatik Merapi mungkin digerakkan oleh gas-gas vulkaniknya, bagaimana cara mendeteksi kejadian seperti ini? Apakah kejadian tersebut bisa terulang lagi ke depan? Dan apakah kejadian erupsi freatik bisa berpengaruh terhadap status aktivitas Gunung Merapi?

Gambar 4. Diagram sederhana mekanisme erupsi freatik 18 November 2013. Gangguan terhadap kantung magma membuat gas karbondioksida terlepas dalam jumlah besar menuju kepundan, bertemu dengan air hujan yang meresap dan memanaskannya hingga menjadi uap superpanas bertekanan tinggi. Tekanan uap akhirnya membelah kubah lava 2010 yang menutupinya di kepundan. Maka gas karbondioksida panas dan uap air superpanas beserta material ikutan yang tergerus pun terlontar sebagai erupsi freatik. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 4. Diagram sederhana mekanisme erupsi freatik 18 November 2013. Gangguan terhadap kantung magma membuat gas karbondioksida terlepas dalam jumlah besar menuju kepundan, bertemu dengan air hujan yang meresap dan memanaskannya hingga menjadi uap superpanas bertekanan tinggi. Tekanan uap akhirnya membelah kubah lava 2010 yang menutupinya di kepundan. Maka gas karbondioksida panas dan uap air superpanas beserta material ikutan yang tergerus pun terlontar sebagai erupsi freatik. Sumber: BPPTKG, 2014.

Bila hanya mendasarkan pada data seismik, sulit untuk memprakirakan erupsi freatik mengingat kejadian tersebut tak banyak terefleksi dalam dinamika gempa Gunung Merapi. Statistika kegempaan tidak menunjukkan perubahan signifikan menjelang terjadinya erupsi freatik, baik dalam hal jumlah maupun jenis gempa Merapi. Pada erupsi freatik 22 Juli 2013 memang terekam lonjakan gempa vulkanik dangkal (VB) dan gempa LHF. Namun dalam kejadian erupsi freatik yang lebih besar, yakni pada 18 November 2013, gempa-gempa yang sama ternyata tak mengalami lonjakan. Demikian pula pada saat terjadi erupsi freatik yang lebih kecil pada 22 Juni 2013. Jika dirunut semenjak Letusan Merapi 2010 berakhir, gunung berapi ini telah mengalami kejadian yang mirip dengan erupsi freatik (dalam intensitas jauh lebih kecil sehingga diistilahkan sebagai hembusan) ataupun kejadian erupsi freatik sebanyak lebih dari 70 kali. Setiap kejadian hembusan maupun erupsi freatik itu tidak selalu disertai dengan lonjakan gempa Merapi yang khas. Lonjakan energi seismik akumulatif seperti teramati menjelang erupsi freatik 22 Juli 2013 dan 18 November 2013 tidak selalu diikuti dengan peningkatan jumlah gempa, mengingat jumlah energi seismik lebih berbanding lurus terhadap magnitudo gempa.

Kesulitan yang sama juga dijumpai jika hanya mengandalkan pada deformasi tubuh Gunung Merapi, baik dengan menggunakan data EDM (electronic distance measurement) maupun dengan tiltmeter. Deformasi tubuh gunung khususnya fase inflasi (penggelembungan) akan terjadi kala magma segar memasuki tubuh gunung menuju ke kepundan untuk bersiap keluar. Padahal erupsi freatik Merapi tidak melibatkan pergerakan magma segar, sehingga tidak menghasilkan deformasi yang signifikan. Pengukuran tiltmeter di Pos Plawangan serta pengukuran EDM Selo, Jrakah, Babadan dan Kaliurang hingga akhir November 2013 menunjukkan hal itu.

Gambar 5. Erupsi freatik Merapi pada 12 Desember 2013 namun intensitasnya lebih kecil dibanding erupsi 18 November 2013. Kiri: kolom erupsi seperti teramati dari pos Jrakah, membumbung setinggi 500 meter dari puncak ke arah timur. Kanan: peta sebaran debu vulkanik erupsi freatik 12 Desember 2013 yang dominan ke arah timur laut. Sumber: BPPTKG, 2013.

Gambar 5. Erupsi freatik Merapi pada 12 Desember 2013 namun intensitasnya lebih kecil dibanding erupsi 18 November 2013. Kiri: kolom erupsi seperti teramati dari pos Jrakah, membumbung setinggi 500 meter dari puncak ke arah timur. Kanan: peta sebaran debu vulkanik erupsi freatik 12 Desember 2013 yang dominan ke arah timur laut. Sumber: BPPTKG, 2013.

Karena erupsi freatik lebih digerakkan oleh peningkatan emisi gas vulkanik yang bersuhu tinggi, maka analisis geokimia menjadi salah satu kunci untuk melakukan prakiraan. Masalahnya pengukuran Gunung Merapi secara teknis lebih sulit dibanding pengukuran kegempaannya. Ada dugaan bahwa lonjakan emisi gas vulkanik Merapi mungkin menghasilkan getaran-getaran seismik yang lebih halus dan sulit direkam oleh instrumen-instrumen pengukur gempa yang saat ini bertebaran di seputar Gunung Merapi. Ada dugaan pula bahwa proses pembentukan uap air hingga bertekanan tinggi itu terjadi di dalam kawasan puncak saja, tepatnya di dalam area kerucut Gunung Anyar. Karena itu BPPTKG telah memasang instrumen tambahan di area ini dengan harapan bisa mengindra getaran-getaran yang lebih halus dan terlokalisasi hanya di Gunung Anyar saja, yang mungkin dapat menjadi penanda terjadinya erupsi freatik.

Apakah kejadian erupsi freatik Merapi bisa terulang kembali? Pada 12 Desember 2013 Gunung Merapi kembali mengalami erupsi freatik meski dengan intensitas lebih kecil dibanding erupsi 18 November 2013, secara kualitatif. Erupsi terjadi pada pukul 08:10 WIB dan menyemburkan kolom letusan berwarna kecoklatan hingga setinggi 500 meter dari puncak, yang teramati dari Pos Jrakah, yang kemudian tersebar ke arah timur laut. Debu tipis sempat menghujani Desa Cepogo dan Tarubatang (Kabupaten Boyolali) serta Desa Sidorejo dan Balerante (Kabupaten Klaten) pada pukul 08.30 WIB. Ini menunjukkan bahwa erupsi freatik Merapi tetap berpeluang terjadi. Faktor-faktor yang membuka peluangnya diantaranya tatkala peningkatan emisi gas-gas vulkanik kembali terjadi, jumlah air yang masuk ke dasar kawah bertambah dan terdapat penghalang dalam saluran magma yang memungkinkan gas vulkanik dan uap air terkungkung sementara hingga bertambah tekanannya.

Keberadaan penghalang nampaknya memegang peranan penting mengingat semenjak pertengahan Desember 2013 Jawa Tengah bagian selatan diguyur hujan sangat lebat hingga mengakibatkan bencana banjir yang merendam Kabupaten Kebumen dan Purworejo serta beberapa lokasi di Kabupaten Kulonprogo. Namun berlimpahnya air hujan saat itu tak berlanjut dengan erupsi freatik berikutnya di Gunung Merapi. Atas dasar tersebut dan dengan fakta bahwa penghalang utama dalam saluran magma, yakni kubah lava 2010, kini telah berada dalam kondisi terbelah, maka meski ke depan kemungkinan terjadinya erupsi freatik masih terbuka, namun intensitasnya barangkali takkan melampaui kejadian erupsi freatik 18 November 2013.

Dengan erupsi freatik adalah sebuah keniscayaan yang berulang di Gunung Merapi pasca Letusan Merapi 2010, apakah kejadian tersebut bakal berpengaruh terhadap status aktivitas Gunung Merapi saat ini? Silahkan ikuti dalam bagian kedua dari tulisan ini.

Referensi:
Subandriyo. 2014. Aktivitas Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010, Antisipasi Terhadap Erupsi Freatik Vulkanian. Pertemuan Kelompok Studi Kawasan Merapi, Sleman 4 Januari 2014.

Memahami Erupsi Freatik 18 November 2013 di Gunung Merapi

November 22, 2013 2 comments

Gunung Merapi meletus! Begitu kabar yang berseliweran pada Senin pagi 18 November 2013 lalu. Dari arah kota Yogyakarta, pemandangan pagi hari itu memang menggidikkan. Di utara, tempat Merapi menjulang tinggi, kepulan asap hitam bergumpal-gumpal nampak menjulur menembus langit dari kawah baru Merapi, produk letusan besar 2010, yang lebar dan ‘robek’ di sisi tenggaranya. Kolom debu menyembur hingga setinggi sekitar 2.000 meter dari puncak. Debu vulkanik pun berjatuhan di sisi timur gunung dan terbawa hembusan angin hingga sejauh hampir 70 km. Debu pun menyelimuti suasana pagi kota-kota Boyolali, Kartasura, Surakarta, Karanganyar dan Sragen. Kota Boyolali direjam oleh debu yang paling pekat, yang dalam simulasi sanggup membentuk endapan setebal antara 1 hingga 10 mm. Bandara Adisumarmo pun turut dihujani debu, meski dengan ketebalan lebih tipis yakni antara 0,3 hingga 1 mm. Sehingga aktivitas penerbangan pagi itu tak terganggu.

Gambar 1. Kolom debu vulkanik mengepul ke langit pada kejadian Senin pagi 18 November 2013, diabadikan dari arah selatan (Kaliurang). Sumber: BPPTKG, 2013.

Gambar 1. Kolom debu vulkanik mengepul ke langit pada kejadian Senin pagi 18 November 2013, diabadikan dari arah selatan (Kaliurang). Sumber: BPPTKG, 2013.

Tak pelak kehebohan besar pun tercipta. Arus pengungsian sempat mengalir dari desa-desa yang berdekatan dengan puncak Merapi. Wajah-wajah terkejut dapat ditemukan dimana-mana, apalagi pemandangan ini tidak disertai tanda-tanda khas bakal terjadinya letusan Merapi seperti kebiasaan sebelumnya. Apalagi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebagai “rumah” bagi segala aktivitas pemantauan Gunung Merapi masih tetap menyatakan gunung ini berstatus Aktif Normal (Tingkat 1).

Jadi apa yang sesungguhnya terjadi di Senin pagi lalu? Apakah ini tanda awal bahwa siklus letusan Merapi telah mulai menampakkan ujung hidungnya setelah 3 tahun beristirahat pasca letusan 2010? Apakah kejadian Senin pagi lalu akan berujung pada letusan demi letusan yang terus membesar?

Tahap

Secara teknis, Gunung Merapi pada Senin pagi 18 November 2013 itu memang ber-erupsi alias meletus. Namun Gunung Merapi justru tidak berada dalam tahap letusan. Seperti gunung berapi aktif lainnya, letusan Gunung Merapi juga diwujudkan dengan keluarnya magma. Kecuali letusan 1930 dan 2010, muntahan magma Gunung Merapi sepanjang abad ke-20 selalu ditandai dengan menumpuknya magma di ujung lubang keluaran hingga membesar dan membukit sebagai kubah lava. Oleh bermacam sebab baik internal maupun eksternal, sebagian kubah lava lantas longsor sehingga materialnya (dalam wujud pasir, debu dan bebatuan beragam ukuran) yang panas membara berkejaran menuruni lereng gunung sebagai aliran piroklastika. Nama populernya adalah awan panas, atau bagi penduduk sekitar Gunung Merapi mendapatkan nama lain yakni wedhus gembel.

Gambar 2. Sebaran debu vulkanik dari Gunung Merapi menyusul kejadian Senin pagi 18 November 2013. Debu melampar hingga sejauh hampir 70 km dari kawah Merapi. Sumber: BPPTKG, 2013.

Gambar 2. Sebaran debu vulkanik dari Gunung Merapi menyusul kejadian Senin pagi 18 November 2013. Debu melampar hingga sejauh hampir 70 km dari kawah Merapi. Sumber: BPPTKG, 2013.

Muntahan magma selalu didului oleh gerak naik magma dari dapur magma. Bagi Gunung Merapi dapur magmanya terletak di kedalaman sekitar 4 km dari paras air laut rata-rata. Oleh beragam sebab, magma dalam dapur magma secara periodik akan bergerak naik melintasi saluran magma. Saluran ini masih dipenuhi sisa-sisa magma tua dari episode letusan sebelumnya yang sudah membeku. Sehingga magma segar (magma baru) yang bersifat plastis (sangat kental) harus berjuang keras meretakkan/memecah bekuan-bekuan tersebut agar bisa terus menanjak. Peretakan/pemecahan ini menghasilkan getaran-getaran gempa tektonovulkanik yang lebih dikenal sebagai gempa vulkanik dalam. Magma segar yang berhasil menerobos lantas memasuki kantung/saku magma Merapi yang terletak sekitar 1 hingga 1,7 km di bawah puncak. Dari sini kala jumlahnya telah cukup banyak, magma segar pun kembali menanjak naik memasuki saluran magma dalam tubuh Gunung Merapi. Maka proses serupa pun berulang, kala magma segar harus meretakkan/memecahkan bekuan sisa-sisa magma tua yang masih menyumbat di dalam saluran. Maka terjadilah getaran-getaran yang merupakan gempa vulkanik dangkal. Saat magma mulai memasuki tubuh gunung, maka penambahan massa magma menyebabkan tubuh gunung membengkak dibanding semula.

Gerakan magma dari dapur magma menuju ke kantung magmanya membutuhkan waktu lama, tak hanya dalam 1 hingga 2 hari. Pun demikian gerakan magma dari kantung magma menuju puncak. Setiap getaran gempa vulkanik dalam dan dangkal bisa dimonitor, terlebih Gunung Merapi adalah gunung berapi yang paling diawasi di Indonesia. Maka saat Gunung Merapi hendak memasuki tahap letusannya, jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkalnya bakal melonjak dibanding nilai rata-rata mingguan. Tubuh gunung pun bakal terpantau membengkak, baik berdasarkan pengukuran menggunakan instrumen tiltmeter maupun EDM (electronic distance measurement). Situasi inilah yang tak terlihat menjelang kejadian 18 November 2013 lalu. Berdasarkan catatan BPPTKG, kegempaan Gunung Merapi selama periode 11-17 November 2013 terdiri dari gempa guguran 109 kali, gempa multifase 8 kali, gempa tektonik 11 kali dan gempa vulkanik dangkal 3 kali tanpa adanya gempa vulkanik dalam. Angka ini relatif tak berbeda dengan pengukuran seminggu sebelumnya, yakni periode 4-10 November 2013, dimana tercatat gempa guguran 78 kali, multifase 2 kali dan gempa tektonik 11 kali tanpa adanya gempa vulkanik.

Gambar 3. Perubahan morfologi puncak Gunung Merapi antara sebelum 2010 (kiri) dan setelah 2010 (kanan) berdasarkan citra satelit. Angka menunjukkan lokasi kubah lava produk tahap letusan tertentu (misalnya 2006 berarti kubah lava produk tahap letusan 2006). Sebelum 2010, puncak dipenuhi tonjolan kubah lava di sana-sini tanpa adanya kawah. Pasca 2010 sejumlah kubah lava lenyap seluruhnya/sebagian, digantikan oleh kawah seukuran 600 meter yang terbuka ke tenggara. Perubahan inilah yang mempengaruhi sifat-sifat Gunung Merapi pasca 2010. Sumber: BPPTK, 2007; BPPTKG, 2013.

Gambar 3. Perubahan morfologi puncak Gunung Merapi antara sebelum 2010 (kiri) dan setelah 2010 (kanan) berdasarkan citra satelit. Angka menunjukkan lokasi kubah lava produk tahap letusan tertentu (misalnya 2006 berarti kubah lava produk tahap letusan 2006). Sebelum 2010, puncak dipenuhi tonjolan kubah lava di sana-sini tanpa adanya kawah. Pasca 2010 sejumlah kubah lava lenyap seluruhnya/sebagian, digantikan oleh kawah seukuran 600 meter yang terbuka ke tenggara. Perubahan inilah yang mempengaruhi sifat-sifat Gunung Merapi pasca 2010. Sumber: BPPTK, 2007; BPPTKG, 2013.

Gempa guguran merupakan getaran yang terkait aktivitas ambrolnya bongkahan-bongkahan bebatuan dari kubah lava sementara gempa multifase terkait dinamika dalam kubah lava Merapi. Bandingkan dengan catatan kegempaan menjelang tahap letusan, dimana gempa vulkanik dalam dan dangkal bisa terjadi puluhan kali dalam seminggu. Di sisi lain pengukuran kemiringan lereng dengan tiltmeter tidak menunjukkan adanya perubahan kemiringan, pun demikian dengan hasil pengukuran EDM. Maka jelas tak ada gerak naik magma dari dapur magma Merapi. Atas dasar inilah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebagai induk dari BPPTKG tetap menempatkan Gunung Merapi dalam status Aktif Normal (tingkat 1). Sehingga gunung ini memang tak dalam tahap letusan.

Jika demikian, apa yang sesungguhnya terjadi pada Senin pagi 18 November 2013 lalu?

Erupsi Freatik

Saat Gunung Merapi meletus besar tepat tiga tahun silam, letusan dipungkasi dengan pembentukan kubah lava baru secara gradual yang disebut kubah lava 2010 di dasar kawah. Kubah lava yang menjadi ‘penyumbat’ ujung saluran magma Merapi ini perlahan namun pasti terus mendingin dan membatu. Batuan adalah penghantar panas yang buruk, sehingga pendinginan yang dialami oleh bagian permukaan kubah lava 2010 tidak tersalur dengan baik ke bagian dalam, sehingga dasar kubah lava sejatinya masih panas membara. Di sisi lain pendinginan tersebut pun berlangsung tak merata, sehingga masih ada titik-titik yang suhunya setinggi 1.000 derajat Celcius yang menjadikannya bagian terlemah pada kubah lava.

Gambar 4. Penampang melintang Gunung Merapi dengan posisi dapur magma dan kantung/saku magmanya. Sumber: diadaptasi dari Hidayati dkk, 2008.

Gambar 4. Penampang melintang Gunung Merapi dengan posisi dapur magma dan kantung/saku magmanya. Sumber: diadaptasi dari Hidayati dkk, 2008.

Pasca letusan 2010, Gunung Merapi kini memiliki kawah besar (diameter sekitar 600 meter) yang terbuka/robek di sisi tenggaranya. Dasar kawah ini berceruk di sana sini seiring tutupan kubah lava yang tak menjangkau semua sudutnya, sehingga memungkinkan air hujan terjebak dan meresap. Kondisi ini yang tak pernah dijumpai sebelum 2010, kala Gunung Merapi tidak berkawah dan melulu berhias aneka kubah lava yang bertonjolan di sana-sini sebagai produk letusan dari masa yang berbeda-beda.Sehingga air hujan tak sempat menggenang dan langsung mengalir menuju lereng.

Resapan air hujan inilah pembuka babak baru bagi Gunung Merapi pasca 2010, yang memungkinkan terjadinya erupsi freatik. Erupsi ini adalah jenis letusan yang terjadi tatkala air, darimanapun sumbernya, mendadak terpanaskan oleh magma, baik magma segar maupun tua, tanpa harus bersentuhan secara langsung. Pemanasan hebat (pada rentang suhu antara 500 hingga 1.170 derajat Celcius) menyebabkan penguapan brutal yang membentuk uap bertekanan tinggi. Secara umum setiap 1 liter air yang terpanaskan akan berubah menjadi 2.000 liter uap. Kian banyak jumlah air yang meresap diimbangi dengan kian banyak pula uap air yang terbentuk. Bila tekanan uapnya melampaui ambang batas kekuatan ikatan antar butir batuan di kubah lava, khususnya di titik-titik yang paling lemah, maka semburan uap air pun terjadilah. Semburan bakal menyeret butir-butir debu dan pasir sehingga menghasilkan kolom debu nan pekat di udara sebelum kemudian tersebar ke arah tertentu mengikuti hembusan angin. Inilah erupsi freatik. Karena hanya ditenagai uap air, maka erupsi freatik pada umumnya hanya akan menghasilkan kolom debu yang relatif rendah (kurang dari 5.000 meter), kecuali jika sumber airnya sangat berlimpah (misalnya untuk gunung-gunung berapi laut). Durasi erupsi pun singkat, karena begitu seluruh uap air telah keluar maka erupsi pun kehilangan tenaganya dan berhenti dengan sendirinya.

Bagi sejumlah gunung berapi, erupsi freatik menjadi salah satu fase dalam tahap letusan tatkala magma segar yang sedang menanjak naik di dalam salurannya telah sanggup memanaskan air bawah tanah hingga titik ekstrim. Dalam kasus ini maka erupsi freatik akan berlanjut dengan fase selanjutnya, yakni erupsi freatomagmatik. Erupsi freatomagmatik terjadi tatkala magma segar benar-benar telah bersentuhan dengan air bawah tanah sehingga permukaannya mendadak mendingin dan membeku, namun tidak dengan interiornya. Jika magma terus saja menanjak naik maka erupsi freatomagmatik bakal berlanjut dengan erupsi magmatik sebagai fase puncaknya. Fase-fase seperti ini bisa disaksikan misalnya dalam Letusan Sinabung 2013 yang dimulai semenjak 15 September 2013 dan masih berlangsung hingga kini. Fase erupsi freatik dan freatomagmatik Sinabung terjadi pada rentang waktu 15 September hingga 11 November 2013. Sementara fase erupsi magmatik berlangsung pasca 11 November 2013, ditandai dengan semburan awan panas dan lava pijar.

Gambar 5. Diagram sederhana proses terjadinya erupsi freatik di Gunung Merapi. Tubuh gunung (warna coklat) hanya digambarkan di sekitar puncak, dengan kawah tersumbat kubah lava yang permukaannya sudah mulai mendingin (warna hitam) namun dasarnya masih membara (warna orange). Kubah lava menjadi pembatas udara luar dengan saluran magma yang masih penuh berisi magma sisa letusan sebelumnya yang masih membara (warna merah). A = saat hujan mengguyur puncak, membuat air tergenang di dasar kawah. B = air yang tergenang memasuki interior/dasar kubah lava dan terpanaskan brutal hingga membentuk uap sangat banyak. C = uap menyembur sembari membawa partikel debu dalam kubah lava hingga membentuk kolom debu vulkanik. Sumber: Sudibyo, 2013.

Gambar 5. Diagram sederhana proses terjadinya erupsi freatik di Gunung Merapi. Tubuh gunung (warna coklat) hanya digambarkan di sekitar puncak, dengan kawah tersumbat kubah lava yang permukaannya sudah mulai mendingin (warna hitam) namun dasarnya masih membara (warna orange). Kubah lava menjadi pembatas udara luar dengan saluran magma yang masih penuh berisi magma sisa letusan sebelumnya yang masih membara (warna merah). A = saat hujan mengguyur puncak, membuat air tergenang di dasar kawah. B = air yang tergenang memasuki interior/dasar kubah lava dan terpanaskan brutal hingga membentuk uap sangat banyak. C = uap menyembur sembari membawa partikel debu dalam kubah lava hingga membentuk kolom debu vulkanik. Sumber: Sudibyo, 2013.

Namun erupsi freatik dapat pula berdiri sendiri tanpa harus diikuti dengan erupsi freatomagmatik maupun magmatik. Fenomena ini sering dijumpai di Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah). Karena itu tatkala salah satu kawah aktif di Dataran Tinggi Dieng meletus, durasi letusannya tak memakan waktu lama. Pada masa silam erupsi freatik yang berdiri sendiri juga banyak terjadi di seputar kaki Gunung Muria (jawa Tengah), yang menghasilkan aneka cekungan bulat yang merupakan kawah maar. Sebagian diantaranya terisi air dan menjadi danau. Kejadian serupa di masa silam pun terjadi di sekitar Gunung Lamongan dan Gunung Semeru (keduanya di Jawa Timur), dengan sejumlah kawah maar yang dihasilkannya pun tergenangi air sebagai danau yang oleh penduduk setempat disebut ranu.

Erupsi freatik ini pulalah yang terjadi di Gunung Merapi pasca 2010, termasuk kejadian 18 November 2013 lalu. Erupsi freatik di Gunung Merapi sesungguhnya telah berkali-kali terjadi selama ini, namun yang menonjol baru tiga: erupsi freatik 23 Juni 2013, 22 Juli 2013 dan 18 November 2013. Di antara ketiganya, erupsi freatik 18 November 2013 merupakan yang terbesar hingga sejauh ini, menumbangkan rekor yang semula dipegang kejadian 22 Juli 2013. Dalam catatan Martono Arbi Wibisono, ketiga erupsi freatik itu selalu didului hujan deras yang mengguyur gunung dalam sehari dua hari sebelumnya. Hujan pada 11 November 2013 bahkan tergolong deras dengan intensitas hingga 47 mm/jam dan berlangsung selama 125 menit. Hujan deras ini mungkin salah satu faktor yang membuat erupsi freatik 18 November 2013 lebih besar ketimbang kejadian 22 Juli 2013 maupun 23 Juni 2013 mengingat air yang tergenang di dasar kawah dan lalu memasuki interior kubah lava jauh lebih besar. Konsekuensinya, uap air yang terbentuk pun jauh lebih banyak sehingga tekanan uapnya jauh lebih besar. Sebagai muaranya semburan uap air dalam erupsi freatik 18 November 2013 menjadi lebih tinggi (yakni 2.000 meter) dibanding kejadian 22 Juli 2013 (yang ‘hanya’ 1.000 meter). Uap air bertekanan tinggi itu pun kemungkinan menyembur tidak hanya melewati satu titik saja. Sehingga kubah lava 2010 pun menjadi terlemahkan khususnya di sektor-sektor tertentu. Survei BPPTKG menunjukkan telah terbentuk retakan pasca erupsi pada kubah lava 2010, yakni sepanjang 230 meter dengan lebar 50 meter, yang mungkin adalah indikasi dari pelemahan tersebut.

Gempa

BPPTKG mencatat erupsi freatik pada Senin pagi 18 November 2013 itu terjadi pada pukul 04:58 WIB dengan durasi 10 menit. Selain kesan visual dalam bentuk semburan kolom debu ke langit, erupsi pun terekam pada seismometer-seismometer pemantau Gunung Merapi sebagai getaran keras, dengan amplitudo maksimum hingga 120 mm. Erupsi freatik didului dengan gempa tektonik lokal, yang disusul oleh gempa tektonik jauh pada pukul 04:41 WIB. Rilis BMKG menunjukkan gempa tektonik jauh itu adalah gempa Ciamis dengan magnitudo 4,7 skala Richter dan episentrum terletak pada koordinat 8,33 LS 109,00 BT pada kedalaman 23 km. Episentrum gempa terletak di sebelah selatan kota Cilacap (Jawa Tengah) sejauh 66 km. dari Gunung Merapi, episentrum gempa tektonik jauh ini berjarak 165 km.

Gambar 6. Perkiraan intensitas getaran yang dihasilkan Gempa Ciamis 18 November 2013 terhadap kerakbumi disekelilingnya. Lingkaran menunjukkan radius maksimal getaran berintensitas tertentu, dimana "4" adalah 4 MMI (Modified Mercalli Intensity) dan seterusnya. Sumber: Sudibyo, 2013.

Gambar 6. Perkiraan intensitas getaran yang dihasilkan Gempa Ciamis 18 November 2013 terhadap kerakbumi disekelilingnya. Lingkaran menunjukkan radius maksimal getaran berintensitas tertentu, dimana “4″ adalah 4 MMI (Modified Mercalli Intensity) dan seterusnya. Sumber: Sudibyo, 2013.

Dua gempa tektonik beruntun ini dianggap sebagai pemicu erupsi freatik lalu. Meski demikian peranan gempa tektonik jauh (yakni gempa Ciamis) masih mengundang tanya. Dengan kota Cilacap sebagai kawasan terdekat terhadap episentrum, seharusnya kota ini dan kawasan sekitarnya yang paling merasakan getaran gempa Ciamis. Namun dalam kenyataannya tidak demikian, sejauh ini tidak ada laporan penduduk setempat yang merasakan getaran gempa ini. Pada umumnya manusia baru merasakan adanya gempa saat mengalami getaran berintensitas minimal 3 MMI (Modified Mercalli Intensity). Jika dianggap Cilacap mengalami getaran berintensitas 3 MMI maka Gunung Merapi, yang berjarak 165 km dari episentrum, hanya akan mengalami getaran berintensitas 1 MMI atau getaran terlemah. Rasanya sulit getaran selemah itu sanggup membuat bagian kubah lava 2010 retak-retak yang memungkinkan air masuk ke dasar/interior kubah, meskipun di titik terlemahnya sekalipun. Pengaruh gempa terhadap dinamika dapur magma dan kantung magma pun diragukan. Manga & Brodsky (2006) telah mengembangkan rumus empirik yang sejatinya berlaku dalam kasus gempa dan gunung lumpur (mud volcano) dalam bentuk M = 2,26 log R – 5 (R= jarak ke episentrum dalam meter, M = magnitudo gempa minimum untuk bisa memicu letusan). Dengan menganggap rumus empirik ini juga bisa diterapkan dalam kasus letusan gunung berapi yang dipicu gempa tektonik, maka agar bisa mengganggu stabilitas dapur magma dan kantung magma Merapi, gempa Ciamis harus memiliki magnitudo minimum 6,8 skala Richter.

Terlepas dari bagaimana hubungan gempa Ciamis dengan erupsi freatik 18 November 2013, dalam sejarahnya aktivitas Gunung Merapi kadangkala (tidak selalu) berhubungan dengan gempa tektonik yang episentrumnya berdekatan dengannya. Misalnya pada 2001 saat daratan Yogya diguncang gempa tektonik pada 25 Mei 2001 (magnitudo Mw 6,3) dengan episentrum 50 km sebelah barat daya Gunung Merapi, atau tepatnya di bawah kota Wates (Kabupaten Kulon Progo) dengan kedalaman 130 km. Saat gempa ini terjadi, Gunung Merapi sedang dalam tahap letusan. Dan gempa mempengaruhi dapur/kantung magma, yang ditandai dengan peningkatan suhu titik solfatara Woro hingga 30 derajat Celcius dari nilai semula yang sebesar 435 derajat Celcius. Pun demikian pada 2006, juga pada saat Gunung Merapi berada dalam tahap letusan. Gempa tektonik 27 Mei 2006 (magnitudo Mw 6,4) mengguncang dengan episentrum berjarak 50 km sebelah selatan Gunung Merapi, atau tepatnya di perbatasan kabupaten Gunungkidul dan bantul, pada kedalaman 10 km. Gempa yang menelan ribuan korban jiwa ini pun mempengaruhi Gunung Merapi sehingga volume magma yang dimuntahkannya meningkat. Jika sebelum gempa Gunung Merapi hanya memuntahkan ~50.000 meter kubik magma/hari, maka pasca gempa muntahan magma melonjak hebat menjadi ~150.000 meter kubik/hari. Jumlah awan panas rata-rata yang dihasilkannya dalam periode 16 hari pun melesat dari semula 34 kejadian awan panas/hari sebelum gempa menjadi 95 kejadian awan panas/hari pascagempa.

Pelajaran Ke Depan

Gambar 7. Bagaimana erupsi demi erupsi freatik mengubah wajah kubah lava 2010 di dasar kawah Gunung Merapi. A = kubah lava pada Juni 2013, nampak ceruk pusat (P) dan titik sinter (S) di sisi barat daya dimana magma masih membara. B = kubah lava pasca erupsi freatik 22 Juli 2013, ceruk pusat (P) masih terlihat dengan area sekitar diselimuti lapisan debu vulkanik produk erupsi, sementara titik sinter telah lenyap berubah menjadi ceruk panjang dan lebih dalam. C = kubah lava pasca erupsi 18 November 2013, ceruk pusat telah lenyap digantikan retakan sepanjang 230 m dengan lebar 50 m. Sumber: Iskandar Wibisono, 2013; BPPTKG, 2013.

Gambar 7. Bagaimana erupsi demi erupsi freatik mengubah wajah kubah lava 2010 di dasar kawah Gunung Merapi. A = kubah lava pada Juni 2013, nampak ceruk pusat (P) dan titik sinter (S) di sisi barat daya dimana magma masih membara. B = kubah lava pasca erupsi freatik 22 Juli 2013, ceruk pusat (P) masih terlihat dengan area sekitar diselimuti lapisan debu vulkanik produk erupsi, sementara titik sinter telah lenyap berubah menjadi ceruk panjang dan lebih dalam. C = kubah lava pasca erupsi 18 November 2013, ceruk pusat telah lenyap digantikan retakan sepanjang 230 m dengan lebar 50 m. Sumber: Iskandar Wibisono, 2013; BPPTKG, 2013.

Jelas bahwa pada 18 November 2013 lalu Gunung Merapi tidak berada dalam tahap letusan, seperti tecermin dari data kegempaan serta hasil pengukuran kemiringan lereng dan EDM. Apa yang terjadi pada Senin pagi itu merupakan erupsi freatik yang singkat karena hanya ditenagai uap air dalam jumlah terbatas, sebagai konsekuensi dari terbatasnya air yang berada di dasar kawah. Dengan erupsi berlangsung singkat, terminologi populer yang lebih cocok untuk mendeskripsikannya mungkin adalah Gunung Merapi sedang ‘batuk’, bukan meletus.

Erupsi freatik dikontrol oleh keberadaan air dalam kawah, yang berasal dari air hujan. Dalam tiga kejadian erupsi freatik Gunung Merapi yang signifikan, semuanya didahului dengan hujan deras dalam sehari atau dua hari sebelumnya. Dengan Indonesia telah memasuki musim hujan dan bakal mencapai puncaknya pada Januari-Februari 2014 mendatang, potensi Gunung Merapi bakal ‘terbatuk’ lagi masih besar. Terlebih jika perubahan-perubahan di dasar kawah pasca tiga erupsi freatik signifikan tadi diperhitungkan, yang menghasilkan beragam ceruk dan retakan di kubah lava 2010. Sehingga air hujan berpotensi menggenang lebih banyak lagi. Jika titik-titik terlemah di dasar kawah mendadak retak, oleh beragam sebab, dan air yang menggenang lantas membanjir terserap ke interior/dasar kubah lava, maka Gunung Merapi pun bakal ‘terbatuk’ lagi. Jadi ancaman air hujan pada Gunung Merapi kini tak lagi hanya bisa menghasilkan lahar dingin/lahar hujan, namun juga mampu menyebabkan Gunung Merapi ‘terbatuk.’

Situasi inilah yang harus menjadi perhatian bersama. Mengingat meski erupsi freatik Gunung Merapi sejauh ini memiliki intensitas lemah, namun ia tetap menghamburkan debu vulkanik yang bisa menurunkan kualitas kehidupan manusia. Maka kesiapsiagaan tetap perlu dijaga. Di sisi lain, semakin mendekat ke puncak maka kepekatan debu vulkanik pada saat erupsi freatik terjadi bakal kian besar. Maka sebaiknya akses ke puncak Gunung Merapi dibatasi. Jika perlu akses ditutup selama waktu tertentu (misalnya seminggu) kala hujan deras mendera Gunung Merapi.

Referensi :

Manga & Brodsky, 2006, Seismic Triggering of Eruptions in the Far Field: Volcanoes and Geysers, Annu.Rev.EarthPlanet Sci 2006, 34, 263-291.

Walter dkk, 2007, Volcanic Activity Induced by Tectonic Earthquakes: Static and Dynamic Stress Triggering at Mt. Merapi, GRL 2007, 34, 1-5.

Hidayati dkk, 2008, Focal Mechanism of Volcano-tectonic Earthquakes at Merapi Volcano, Indonesia, IJP 2008, vol. 19 no. 3, 75-82.

Categories: Aktivitas Merapi

Memahami ‘Batuk’ Merapi 22 Juli 2013

July 24, 2013 4 comments

Suara gemuruh mirip letusan terdengar dari arah Gunung Merapi pada Senin dinihari 22 Juli 2013 pukul 04:15 WIB. Suara menakutkan itu bisa didengar siapapun yang berada di sekujur lereng dan kaki gunung berapi aktif pembatas alamiah propinsi Jawa Tengah dan DIY itu hingga radius 6 sampai 7 km dari puncak. Gemuruh lantas disusul guyuran debu dan pasir yang berkibar ke kawasan kaki dan lereng gunung, terutama sektor selatan, barat dan timur. Bersamaan dengan terbitnya sang mentari, kolom debu bersalut warna kemerah-merahan nampak mengepul dari puncak Merapi dan membumbung tinggi hingga sekitar 1.000 meter di atas puncak seperti teramati dari pos pemantauan Selo, Babadan, Jrakah dan Ngepos. Selama 35 menit kemudian tepatnya hingga pukul 04:48 WIB, badai kegempaan melanda seluruh seismometer pada semua pos pemantauan Gunung Merapi, hingga jarum-jarumnya sibuk membentuk pola berliku-liku yang khas gempa vulkanik. Pada saat yang sama pula badai kegempaan ini sempat dirasakan penduduk di lereng dan kaki gunung.

Lereng dan puncak Gunung Merapi yang tersembunyi di balik hujan debu menyusul peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan rekaman CCTV Plawangan. Sumber : BPPTKG, 2013.

Lereng dan puncak Gunung Merapi yang tersembunyi di balik hujan debu menyusul peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan rekaman CCTV Plawangan. Sumber : BPPTKG, 2013.

Daerah kaki gunung yang menjadi bagian dari Kabupaten Klaten di sisi timur dan Kabupaten Sleman di selatan sontak tersedak-sedak dijejali guyuran pasir dan debu, yang melebar hingga radius 14 km dari puncak. Hujan pasir dan debu ini mengejutkan warga setempat yang sebagian besar sedang menikmati santap sahur di tengah bulan Ramadhan 1434 H. Ditingkahi dengan bergetarnya kaca-kaca jendela yang sontak membuka kembali kenangan pahit letusan besar 2010, maka ribuan orang pun bergegas melaju ke tempat-tempat pengungsian dengan dibantu para relawan. Namun Senin dinihari yang hiruk-pikuk itu tak lantas berkembang jadi horor, setelah hujan debu ternyata segera mereda selepas Matahari menyingsing, sekitar pukul 06:00 WIB. Maka para pengungsi pun berangsur-angsur kembali ke kediamannya masing-masing. Patut disyukuri peristiwa 22 Juli 2013 itu tidak merenggut korban jiwa atau luka-luka maupun kerugian material dalam rupa rusaknya harta benda penduduk. Tetapi guyuran pasir dan debu yang relatif singkat itu masih menerbitkan kekhawatiran akan dampak tertundanya, misalnya rusaknya tanaman pertanian atau rumput cadangan pakan ternak yang vital artinya bagi penduduk kaki Merapi.

Peristiwa ini cukup mengejutkan mengingat sebelumnya tidak ada tanda-tanda Gunung Merapi sedang mengalami peningkatan aktivitas. Memang pasca letusan besar 2010-nya, gunung berapi ini sudah berkali-kali menghujani bagian lereng dan kaki gunungnya dengan pasir dan debu, namun belum pernah dalam skala sebesar ini. Didorong oleh hembusan angin, hujan debu yang ditebarkan Merapi pada Senin dinihari 22 Juli 2013 itu meluas terutama ke arah barat daya hingga menjangkau sebagian Kabupaten Magelang, Purworejo dan bahkan Kebumen. Debu yang mengguyur jalur Magelang-Muntilan-Sleman bahkan membikin kawasan itu berbedak debu setebal rata-rata 3 milimeter. Tapi uniknya daerah di sisi selatan gunung seperti kota Yogyakarta justru luput dari hujan debu ini. Sehingga transportasi udara melalui Bandara Adisucipto, yang pernah ditutup berhari-hari kala letusan besar 2010, tetap berjalan normal.

Kepulan asap putih membumbung dari kawah Merapi seiring Peristiwa 22 Juli 2013, diabadikan dari Tlogolele.  Sumber : BPPTKG, 2013.

Kepulan asap putih membumbung dari kawah Merapi seiring Peristiwa 22 Juli 2013, diabadikan dari Tlogolele.
Sumber : BPPTKG, 2013.

Sempat muncul kekhawatiran bahwa hujan debu Merapi yang di luar kebiasaan ini adalah pertanda siklus letusan gunung berapi terlasak se-Indonesia tersebut telah kembali datang menjelang. Secara rata-rata Gunung Merapi memang meletus setiap 2 hingga 5 tahun sekali berdasarkan catatan dalam kurun 100 tahun terakhir. Ada pula yang mencoba mengaitkannya ke dalam ranah mistis, mengingat hujan debu itu terjadi hampir bersamaan dengan peringatan 1.000 hari peristiwa letusan besar 2010 yang menelan banyak korban jiwa.

Batuk

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang menjadi induk dari segala aktivitas pemantauan Gunung Merapi menyatakan hingga saat ini status Gunung Merapi adalah aktif normal. Dari empat tingkat dalam pemeringkatan aktivitas sebuah gunung berapi di Indonesia, Gunung Merapi menempati tingkat terendah (level 1). Memang terdeteksi adanya peningkatan aktivitas kegempaan selama periode 15 hingga 22 Juli 2013, yakni dalam wujud terjadinya 10 gempa vulkanik dangkal, 27 gempa multifase, 66 gempa guguran dan 87 gempa frekuensi panjang. Bandingkan dengan situasi seminggu sebelumnya (7 hingga 14 Juli 2013), yang hanya mencatat adanya 1 gempa vulkanik dangkal, 5 gempa multifase dan 15 gempa guguran tanpa adanya gempa frekuensi panjang. Namun parameter lainnya, yakni jarak antara pos-pos pengamatan dengan tubuh Gunung Merapi dalam pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) ternyata relatif tak berubah. Misalnya pada pos Selo hanya terjadi perubahan sebesar +1 milimeter saja, demikian pula pos Kaliurang (+9 mm), Babadan (-4 mm) dan Jrakah (-3 mm), yang semuanya masih di bawah angka 10 milimeter. Demikian pula dengan kemiringan lereng berdasarkan pengukuran tiltmeter di Plawangan, Labuhan, Klatakan dan Pasarbubar, semuanya menunjukkan tiadanya perubahan kemiringan berarti.

Peta distribusi debu Merapi produk Peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan pemodelan BPPTKG. Beda warna menunjukkan beda ketebalan endapan debu vulkaniknya. Sumber : BPPTKG, 2013.

Peta distribusi debu Merapi produk Peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan pemodelan BPPTKG. Beda warna menunjukkan beda ketebalan endapan debu vulkaniknya. Sumber : BPPTKG, 2013.

Lalu, mengapa terjadi peristiwa 22 Juli 2013?

Secara sederhana bisa dikatakan pada saat itu Gunung Merapi sedang ‘terbatuk’ atau ‘bersin.’ Indikatornya adalah lonjakan sejumlah aktivitas kegempaannya. Secara teknis hal ini merupakan erupsi. Namun ‘batuk’atau ‘bersin’-nya Gunung Merapi itu tidak disebabkan oleh masuk berjejal-jejalnya magma segar ke dalam tubuh gunung setelah mengalir dari dapur magma nun jauh di kedalaman sana. Absennya gempa vulkanik dalam, yang adalah indikator gerakan fluida (magma) nun jauh di bawah permukaan Bumi, menunjukkan hal itu. Pun dengan tidak berubahnya jarak antar pos ke tubuh Gunung Merapi dan tidak berubahnya kemiringan lereng, yang menunjukkan bahwa tidak ada magma segar yang memasuki tubuh gunung.

Dasar kawah Merapi, diabadikan pada 5 Juli 2013 lalu. Nampak kilatan merah membara dari magma yang mengintip di dasar kawah, dengan sedikit kepulan gas vulkanik diatasnya. Di latar belakangnya nampak dinding kawah nan curam, yang sesungguhnya adalah sisa-sisa kubah lava dari letusan-letusan Merapi sebelum 2010. Sumber : BPPTKG, 2013.

Dasar kawah Merapi, diabadikan pada 5 Juli 2013 lalu. Nampak kilatan merah membara dari magma yang mengintip di dasar kawah, dengan sedikit kepulan gas vulkanik diatasnya. Di latar belakangnya nampak dinding kawah nan curam, yang sesungguhnya adalah sisa-sisa kubah lava dari letusan-letusan Merapi sebelum 2010. Sumber : BPPTKG, 2013.

Jadi, apa penyebabnya? ‘Batuk’ Merapi lebih disebabkan oleh solah-tingkah magma sisa letusan 2010 yang masih ada di saluran magma. Sebuah gunung berapi selalu memiliki saluran magma sebagai penghubung kantung magma dengan kawah di puncak/tubuh gunung. Setiap kali gunung berapi tersebut meletus, selalu masih ada magma yang tertinggal dalam saluran magma tanpa sempat muncul di kawah sebagai lava, khususnya tatkala periode suatu letusan telah berakhir. Magma yang kehilangan dorongan dari bawah akhirnya terjebak di dalam saluran magma tanpa bisa keluar. Dengan batuan adalah penghantar panas yang buruk, maka magma sisa yang terjebak ini dapat terus membara bahkan hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Barulah bila ada tambahan tekanan maka sebagian kecil magma sisa ini bisa menyembul dari kawah. BPPTKG dan sejumlah pendaki Gunung Merapi telah berkali-kali menjumpai sembulan magma di dasar kawah Merapi sebagai lava membara bersuhu lebih dari 600 derajat Celcius.

Lonjakan gempa vulkanik dangkal, yang hanya bisa terjadi bila ada pergerakan fluida (bisa magma namun bisa juga gas) tepat di bawah gunung pada kedalaman sumber yang dangkal, pada ‘batuk’ Merapi 22 Jujli 2013 lalu menunjukkan terjadi gerakan fluida sangat dangkal. Dengan tiadanya lelehan magma dari kawah sebagai lava membara serta sedikitnya volume debu yang dihembuskan saat ‘batuk’ menunjukkan aktivitas Gunung Merapi kali ini lebih disebabkan oleh semburan gas bertekanan tinggi dalam upayanya mencari jalan terobosan setelah terkungkung. Begitu menemukan jalur yang lemah, gas bertekanan tinggi ini lantas menghembuskan kekuatannya. Tekanan yang sama pula yang menyebabkan kubah lava Merapi terbaru bergetar sehingga beberapa bagiannya rontok, seperti terlihat dari lonjakan gempa guguran dan gempa multifase.

Freatik

Meski mungkin lebih disebabkan tekanan gas, namun magma sisa letusan 2010 tetap berperan penting dalam ‘batuk’ Merapi ini. Letusan besar 2010 menyebabkan Gunung Merapi berubah dramatis. Di puncaknya terbentuk kawah (cekungan) besar tak sempurna seiring robeknya sebagian dindingnya. Di dasarnya terdapat muara saluran magma Merapi. Dan berbeda dengan kejadian-kejadian letusan Merapi sebelum 2010, saluran tersebut kini relatif terbuka tanpa banyak terhalangi material yang mulai membatu dari berbagai kubah lava yang saling menumpuk hingga tinggi. Dengan terbukanya saluran magma, maka air hujan dapat lebih mudah memasukinya ketimbang saat tertutupi deretan kubah-kubah lava. Meski magma di muara saluran magma umumnya sudah membeku dan mulai membatu sehingga bisa lebih kedap air, namun jika hujan turun lebih sering maka dasar kawah Merapi akan demikian jenuh air sehingga mulailah air meresap ke dalam tubuh gunung. Dan bila terjadi persentuhan dengan magma sisa letusan 2010 di bawah kawah, yang masih panas membara, maka penguapan pun dimulai.

Jika tidak ada penghalang, uap air dengan leluasa bakal menghembus dari kawah sebagai kepulan. Namun jika terhalangi misalnya oleh bagian-bagian magma yang mulai membeku dan membatu, maka uap air yang tak menemukan jalan keluarnya itu akan berkumpul. Ditambah dengan kecenderungan keluarnya gas-gas vulkanik dari magma saat magma di dekat permukaan bumi membuat uap air itu bercampur dengan gas-gas ini sehingga tekanannya lebih besar lagi. Seiring perjalanan waktu, jumlah uap air dan gas vulkanik terus bertambah sebelum akhirnya keluar sebagai hembusan. Tetapi apabila penghalangnya demikian kuat dan tebal, akumulasi uap air dan gas vulkanik hingga jumlah cukup banyak takkan terhindarkan lagi sehingga tekanannya kian lama kian meningkat sampai demikian tingginya. Pada akhirnya batuan yang menghalanginya tak sanggup lagi menahan tekanan sehingga jebol. Uap air pun mengalir deras dan lantas menyembur keluar lewat kawah sembari menyeret material batu, pasir dan debu bersamanya. Secara teknis peristiwa ini dinamakan erupsi freatik.

Salah satu kejadian hembusan uap air dari puncak Gunung Merapi, yang terjadi pada 28 Juni 2013. Sumber : BPPTKG, 2013.

Salah satu kejadian hembusan uap air dari puncak Gunung Merapi, yang terjadi pada 28 Juni 2013. Sumber : BPPTKG, 2013.

Petunjuk ‘batuk’ Merapi ini berasal dari uap air yang terbentuk akibat persentuhan air dan magma sisa letusan 2010 tersirat dari curah hujan di kawasan Gunung Merapi. Meski sejatinya telah memasuki musim kemarau, namun dengan tetap tingginya suhu air laut di sekitar Indonesia maka terjadi situasi kemarau basah, dimana jumlah uap air di udara Indonesia tetap tinggi sehingga hujan tetap sering mengguyur. Dan sepanjang Juli 2013 ini hujan masih kerap terjadi di kawasan Gunung Merapi, yang pada umumnya berupa gerimis atau hujan berintensitas kecil. Meski demikian sempat juga terjadi hujan berintensitas sedang seperti terekam di pos pengamatan Jrakah dan Ngepos. Sebelum ‘batuk’ kali ini, Gunung Merapi sudah berkali-kali menghembuskan uap airnya sebagai asap. Terakhir misalnya pada 29 Juni 2013 silam saat asap mengepul hingga setinggi sekitar 100 meter dari puncak dengan tekanan lemah.

Petunjuk lain ‘batuk’ Merapi 22 Juli 2013 disebabkan oleh erupsi freatik juga nampak dari survei cepat yang dilakukan Agung Harijoko dkk pada Senin siang itu pula, setelah debu mereda. Meski dihadang sejumlah kesulitan seiring terbilasnya debu oleh curah hujan yang datang kemudian, namun sejumlah sampel dari hujan debu akibat ‘batuk’-nya Merapi hari itu berhasil diperoleh khususnya di Kinahrejo, bekas tanah tumpah darah almarhum Mbah Maridjan. Sampel debu tersebut ternyata mengandung remah-remah batuan dan mineral berkristal khas untuk magma sisa letusan, tanpa kehadiran magma segar. Sehingga ‘batuk’ Merapi itu berkemungkinan besar memang berupa erupsi freatik.

Aktif Normal

Apakah ‘batuk’ ini menandakan Gunung Merapi mulai menggeliat kembali dan bakal segera meletus?

Pada dasarnya sebuah gunung berapi yang akan meletus selalu didului mengalirnya magma segar dari kedalaman Bumi oleh faktor-faktor tertentu, baik internal maupun eksternal. Salah satu faktor yang kerap memicu adalah gempa tektonik, yang membuat dapur magma berguncang sehingga isinya menjadi bagaikan minuman bersoda yang baru dikocok. Aliran magma segar bakal tecermin dari gempa vulkanik dalam yang melonjak di atas normal. Aliran magma segar bakal berujung di kantung magma, sebuah penampungan magma yang terletak tepat di bawah gunung. Dari sini magma harus berjuang keras mengerahkan tekanan tingginya untuk memecahkan magma sisa letusan sebelumnya yang sudah mulai membeku dan membatu. Upaya ini bakal terlihat dengan melambungnya jumlah gempa vulkanik dangkal jauh di atas normal sekaligus mulai berubahnya jarak pos-pos pengamatan dengan tubuh gunung serta perubahan kemiringan lereng akibat mulai menggelembungnya tubuh gunung. Bila magma segar ini sudah cukup dekat dengan permukaan Bumi, ia sanggup memanaskan batuan disekelilingnya sehingga mengubah air bawah tanah menjadi uap yang terkumpul kian banyak dan akhirnya menyembur keluar dari kawah sebagai erupsi freatik. Jika magma sudah cukup dekat sehingga langsung bersentuhan dengan air bawah tanah, maka mulailah terjadi erupsi freatomagmatik, saat yang tersembur dari kawah tak hanya uap air namun juga remah-remah batu, pasir dan debu dari permukaan magma segar yang sontak membeku dan membatu saat air mendinginkannya secara mendadak. Dan bila magma segar sudah sampai di kawah, maka mulailah terjadi erupsi magmatik dengan segala variasinya.

Rekaman kegempaan Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan rekaman di bulan Juli 2013 saja. Nampak adanya peningkatan kejadian gempa frekuensi panjang (LHF), vulkanik dangkal (VB) dan multifase (MP). Namun gempa vulkanik dalam (VA) absen. Sumber : BPPTKG, 2013.

Rekaman kegempaan Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan rekaman di bulan Juli 2013 saja. Nampak adanya peningkatan kejadian gempa frekuensi panjang (LHF), vulkanik dangkal (VB) dan multifase (MP). Namun gempa vulkanik dalam (VA) absen. Sumber : BPPTKG, 2013.

Dengan runtunan tersebut, sulit untuk mengatakan ‘batuk’ Merapi kali ini sebagai pertanda ia mulai menggeliat seiring absennya aliran magma segar, setidaknya untuk saat ini. Karena itu status Gunung Merapi tetap berada dalam tingkat aktif normal sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Rekaman curah hujan di sekitar Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan curah hujan di bulan Juli 2013 saja. Sumber : BPPTKG, 2013.

Rekaman curah hujan di sekitar Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan curah hujan di bulan Juli 2013 saja. Sumber : BPPTKG, 2013.

Namun begitu kesiapsiagaan mutlak diperlukan, karena berbeda dengan letusan pada umumnya, peristiwa ‘batuk’ Merapi jauh lebih sulit diprediksi kapan bakal terjadi dan seberapa besar skalanya. Di sisi lain berubahnya wajah Merapi pasca letusan besar 2010, yang salah satunya membuat saluran magmanya menjadi terbuka, menyebabkan potensi terjadinya ‘batuk’ seperti ini lebih tinggi terlebih dalam musim penghujan ataupun dalam situasi kemarau basah seperti tahun ini. Padahal tebaran debu di udara dari ‘batuk’ Merapi ini tetap sanggup menimbulkan gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak dan kalangan lanjut usia. ‘Batuk’ Merapi yang selalu tiba-tiba juga cukup berbahaya bagi kegiatan pendakian gunung. Atas alasan ini pula Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sebagai induk dari BPPTKG, sedang mempertimbangkan untuk menaikkan status Gunung Merapi ke Waspada (level 2). Kenaikan ini bukan sebagai isyarat bahwa Gunung Merapi sedang menggeliat untuk meletus kembali, namun lebih sebagai upaya membangun kesadaran bersama bahwa Gunung Merapi kini sudah berubah dan perilakunya tak seperti dulu lagi. Namun kesiapsiagaan juga senantiasa dibutuhkan seiring terus berdetiknya jarum jam Merapi menuju ke puncak siklus letusan 2 hingga 5 tahunan, sementara bagaimana gelagat letusan Merapi mendatang sulit ditebak khususnya pasca letusan besar 2010.

Alat pemantau banjir lahar dingin di Kali Boyong dan Kali putih

January 23, 2011 4 comments

Alat pemantau banjir lahar dingin di Kali Boyong dan Kali putih

oleh Prof Budi Wignyosukarto

Laboratorium hidraulika Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan FT UGM telah memasang beberapa alat pemantau banjir lahar dingin di lapangan yang dapat dipantau online lewat website lab. Salah satu contoh adalah pemantau elevasi muka air di Rejodani Kali Boyong yang dapat di lihat di http://data.hydraulic.lab.cee-ugm.com/awlr/rejodani/ Travel time Rejondani hingga Jembatan Wreksodiningrat 50 menit, sehingga data ini bisa dipakai sebagai early warning.

Alat pemantau banjir lahar dingin di Kali putih

Sebuah kamera juga dipasang di Kali putih di Dam PU-D1, yang juga dapat dilihat online lewat http://data.hydraulic.lab.cee-ugm.ac.id/cam/ travel time dari titik ini hingga jalan raya di Jumoyo adalah 20-30 menit, sehingga juga dapat dipakai sebagai early warning.

Categories: Lahar Merapi

Beasiswa MERAPI: Satu AYAM Satu ANAK

January 15, 2011 4 comments

Beasiswa MERAPI
oleh Gunawan Julianto

Donasi beasiswa u/ anak2 bermacam bentuknya. Ada yg diwujudkan barang ada yg berupa uang tunai yg kemudian dikelola si penerima, dll.

Tlatah Bocah menginisiasi beasiswa yg sedikit unik, yakni memberikan anak-anak Merapi berupa ayam kampung siap telur.

KENAPA?

Ayam sangat dekat dg kehidupan dusun. Hampir setiap keluarga mempunyai piaraan ini. Disamping harganya murah, pemeliharaannya cukup praktis. Cukup dipanggil “kuuurr…kuuurrr..kuuur..” pasti mendekat krn saat itulah makanan sdh disajikan pemiliknya.

Tlatah Bocah mengajak siapa saja berpartisipasi ikut program 1 anak 1 ayam u/ anak2 Merapi. Anak kelas 4 – 9 akan mendapatkan 1 ayam kampung indukan siap bertelur dan mereka memeliharanya. Hal ini mengajari anak: bertanggung jawab, merawat hewan, & menabung.

BAGAIMANA CARANYA?

1. Beasiswa berupa hibah paket 1 ayam + perawatannya Rp 150.000,-
2. Partisipan sukarela mendonasikan sejumlah uang untuk program tersebut,
3. Apabila donasi setiap partisipan kurang / lebih dari nilai tsb diatas, akan digabungkan dg partisipan lain,
4. Penerima hibah adalah anak-anak kelas 4-9 di lereng Merapi (1 ayam kampung siap telur) dan ketua RT/kepala dusun setempat (1 ayam jantan)
5. Pemberian hibah dilakukan setelah terkumpul sejumlah donasi sesuai jumlah anak kelas 4-9 di satu dusun,
6. Dusun yang dipilih dimulai dari dusun yang sedikit jumlah anak usia penerima hibah dan diprioritaskan dusun yang paling dekat dg lereng merapi serta akses terpencil dibanding yang lain,
7. Anak wajib memelihara dan merawat ayam indukan tersebut untuk berkembang biak, ketua RT/kepala dusun wajib merawat ayam jantan dan mengawasi perkembangan ayam-ayam hibah di RT/dusunnya.
8. Anak memberikan 2 anak ayamnya untuk dipelihara anak lain di dusun lain (bergulir)

Saat ini 16 teman2 kecil di Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang mendapatkan paket hibah kolekti kawan2 dari Pulau Nunukan, Kalimantan (dekat Malaysia).

Ayo siapa mau berpartisipasi? Berapapun donasi Anda, akan sangat bermanfaat bagi pembelajaran anak. Masih ada anak-anak dari 19 dusun lain yang siap mensukseskan program ini. Bagaimana dengan Anda?

Program ini tdk murni dr gagasan kami namun merupakan rangkuman dr apa yg telah banyak dilakukan kawan2. Tidak ada hak cipta disini. Kawan2 dpt pula berperan dengan meneruskan ide program ini pada kawan lain, dapat mengaplikasikannya pada lingkungan sendiri.

Mari bergerak bersama, membangun negeri dengan hal kecil.

INFO:
Facebook: Tlatah Bocah
Email: TlatahBocah@gmail.com
Twitter: @tlatahbocah
Telpon: 081802723030
Kontak: Gunawan

Sekretariat:
TLATAH BOCAH
d/a Rumah Pelangi
Jl. Talun Km 1 no. 57B Patosan
Muntilan – Magelang 56412

Categories: Gagas
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.